Penting bagi umat Islam mempelajari dan mengetahui Fiqih Ramadhan agar setiap ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ, yang dengan izin dan pertolongan Allah Ta'ala kita akan membahasnya pada tulisan ini.
Ramadhan sebentar lagi akan datang. Ia datang kembali dengan penuh keutamaan, di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan menjadikankan kita umat Islam sebagai golongan orang-orang yang bertakwa. Maka sudah sepantasnya kita menyambut bulan Ramadhan dengan penuh suka cita dan rasa syukur, serta mempersiapkan diri sebaik-baiknya, baik secara lahir maupun batin, agar kita dapat mengisi hari-hari di bulan suci ini dengan ibadah yang lebih khusyuk dan amal yang lebih banyak, serta niat yang lebih tulus semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam mempelajari dan mengetahui Fiqih Ramadhan agar setiap ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ, yang dengan izin dan pertolongan Allah Ta'ala kita akan membahasnya pada tulisan ini.
بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، وبعد:
Sesungguhnya Ramadhan adalah salah satu bulan yang mulia dan agung di sisi Allah Ta'ala. Pada bulan ini, al-Qur’an diturunkan, yaitu pada malam Lailatul Qodar yang ia lebih baik daripada seribu bulan, pada malam itu para Malaikat turun dengan perintah Allah Ta'ala, pada malam itu penuh dengan keselamatan dan keberkahan serta dilipatgandakan pahala ibadah seperti beribadah seribu bulan, dan hal itu berlangsung sampai terbit fajar. Maka dikenallah Ramadhan sebagai Syahrul Qur'an (Bulan Al-Qur'an). Begitu juga Ramadhan dikenal sebagai Syahrus Shiyam (Bulan Puasa), yang mana pada bulan ini kaum muslimin mengerjakan puasa di siang hari, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan berbagai ketaatan seperti membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan menghidupkan malamnya dengan qiyamullail. Pada bulan ini juga, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan para setan dari kalangan jin dibelenggu. Hari-hari pada bulan ini ialah hari-hari yang penuh rahmat (kasih sayang), maghfiroh (ampunan), dan itqun minan nar (pembebasan dari api neraka).
Puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Puasa Ramadhan termasuk rukun islam yang keempat dan hukumnya wajib bagi setiap muslim dan muslimah yang baligh, berakal, dan mampu untuk melaksanakannya. Allah Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
1. Beragama Islam, maka tidak diwajibkan atas orang kafir sampai ia masuk Islam.
2. Berakal, maka tidak diwajibkan atas orang yang mengalami gangguan akal (gila) sampai akalnya kembali normal.
3. Baligh (telah mencapai umur mukallaf atau wajib mengerjakan hukum syariat, bagi laki-laki ditandai dengan mimpi basah sedangkan perempuan ditandai dengan haid), maka tidak diwajibkan atas anak kecil, akan tetapi tidak mengapa baginya untuk berpuasa sebagai latihan agar terbiasa.
4. Mampu melaksanakan puasa, maka tidak diwajibkan atas orang yang lemah seperti orang tua renta, atau orang sakit parah yang kecil peluang sembuhnya menurut medis, atau ibu hamil atau menyusui atas rekomendasi dokter, tetapi sebagai gantinya, wajib membayar fidyah yaitu memberi makan seorang fakir miskin setiap hari tidak berpuasa (untuk satu hari puasa yang ditinggalkan) sebesar satu sho’ (lebih kurang 3kg) menurut Hanafi, atau satu mud (lebih kurang 0,75kg) menurut Maliki dan Syafi'i, atau setengah sho' (lebih kurang 1,5kg) menurut Hanbali. Dan diberi kelapangan membayar fidyah di luar bulan Ramadhan jika memiliki uzur, namun membayarnya di dalam bulan Ramadhan lebih utama.
5. Tamyiz (telah mencapai umur bisa memahami suatu pembicaraan dan mampu merespon lawan bicaranya dengan baik), maka tidak diwajibkan atas anak yang belum mumayyiz.
6. Suci dari haid dan nifas, maka tidak diwajibkan atas wanita haid dan nifas, namun ia wajib mengqodho puasa yaitu menggantinya di luar bulan Ramadhan.
7. Berniat puasa, diniatkan setiap malam Ramadhan (menurut Jumhur Ulama) atau cukup diniatkan berpuasa satu bulan penuh di awal malam Ramadhan (menurut Maliki). Adapun tempatnya niat ialah hati, sehingga tidak perlu untuk dilafazkan atau diucapkan, karena tidak didapati satupun riwayat shohih yang menerangkan demikian.
1. Mengakhirkan sahur.
2. Menyegerakan berbuka puasa.
3. Memperbanyak kebaikan dengan amalan-amalan sunnah, seperti sholat sunnah, bersedekah, membaca al-Qur’an, memperbanyak dzikir, doa, dan istighfar.
4. Ketika ada yang mengganggu atau mengejek, maka tidak boleh membalas, tetapi katakanlah: “saya sedang berpuasa”.
5. Memperbanyak doa menjelang berbuka.
6. Mengawali berbuka dengan ruthob (kurma basah), jika tidak ada maka dengan tamr (kurma kering), jika tidak ada maka berbukalah dengan air putih.
1. Orang sakit yang jika ia berpuasa akan membahayakannya atau memperburuk keadaannya, dan musafir yang safarnya telah mencapai jarak yang diperbolehkan untuk mengqoshor sholat, maka tidak berpuasa lebih utama, tetapi wajib mengqodho puasanya di luar bulan Ramadhan. Namun jika tetap berpuasa, maka tidak apa-apa selama tidak bermudhorat.
2. Wanita haid dan nifas, tidak boleh berpuasa sampai suci, tetapi wajib mengqodho. Jika tetap berpuasa, maka puasanya tidak sah.
3. Wanita hamil dan menyusui, jika khawatir terhadap kondisi bayinya atau kondisi si ibu serta bayinya, maka boleh tidak berpuasa, tetapi wajib mengqodho dan membayar fidyah. Sedangkan jika hanya khawatir terhadap kondisi si ibu, tidak dengan bayinya, maka boleh tidak berpuasa, tetapi wajib mengqodho tanpa dibebankan membayar fidyah. Namun jika ia tetap berpuasa, maka tidak apa-apa selama tidak bermudhorat.
4. Orang yang lemah atau tidak mampu berpuasa sama sekali karena tua renta atau penyakit parah yang kecil peluang sembuhnya menurut medis, maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa tetapi wajib membayar fidyah.
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ، لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْر.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS. Al-Qadr: 1-3)
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبيﷺ قال: أعطيت أمتي في رمضان خمس خصال لم تعطه أمة قبلهم، خلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك، وتستغفر لهم الملائكة حتى يفطروا، ويزين الله كل يوم جنته، ثم يقول: يوشك عبادي الصالحون أن يلقوا عنهم المؤونة والأذى، ويصيروا إليك، وتصفد مردة الشياطين، فلا يخلصون فيه إلى ما كانوا يخلصون إليه في غيره، ويغفر لهم في آخر ليلة.
Dari Abu Hurairah Rodhiyallahu 'Anhu dari Nabi ﷺ beliau bersabda: Umatku diberi 5 hal yang tidak pernah diberikan kepada umat-umat sebelumnya pada bulan Ramadhan, yaitu:
1. Aroma mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah Ta'ala daripada aroma kasturi.
2. Para Malaikat beristighfar (memintakan ampunan kepada Allah Ta'ala) bagi orang-orang yang berpuasa sampai mereka berbuka puasa.
3. Allah Ta'ala menghiasi surga-Nya tiap hari di bulan Ramadhan, lalu Allah berkata kepada surga: “Mereka adalah hamba-hamba-Ku yang sholeh yang merasakan kesusahan dan kepayahan karena berpuasa, agar mereka bisa menggapaimu (surga)”.
4. Setan-setan dari kalangan jin dibelenggu sehingga tidak bisa menggoda orang yang berpuasa Ramadhan sebagaimana dilakukan pada bulan selainnya.
5. Diampuninya dosa-dosa orang yang berpuasa setiap akhir malam di bulan Ramadhan.
(HR. Ahmad)
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله ﷺ قال: إذا دخل شهر رمضان فتّحت أبواب الجنة وغلّقت أبواب النار وصفّدت الشياطين
Dari Abu Hurairah Rodhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Jika masuk bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan para setan dari kalangan jin dibelenggu. (HR. An-Nasa'i)
1. Puasa
Nabi ﷺ bersabda:
عن أبي هريرة قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم- : قال الله عز وجل : كل عمل ابن آدم له إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به ، والصيام جنة ، فإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث يومئذ ، ولا يسخب (وفي رواية: ولا يجهل) فإن سابه أحد ، أو قاتله فليقل: إني امرؤ صائم ، والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله يوم القيامة من ريح المسك ، وللصائم فرحتان يفرحهما: إذا أفطر فرح بفطره ، وإذا لقي ربه فرح بصومه.
“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan langsung membalasnya. Puasa adalah perisai, maka apabila salah seorang diantara kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor dan berteriak-teriak, seandainya ada seseorang yang mencela atau mengajak bertikai maka hendaklah ia mengatakan ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpusa itu lebih wangi dari minyak kasturi di sisi Allah. Orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan yaitu tatkala dia berbuka dia bahagia dengan sebab bukanya dan tatkala bertemu dengan Rabbnya dia bahagia dengan puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tidak diragukan lagi bahwa pahala puasa yang besar ini tidaklah diberikan kepada orang yang hanya menahan makan dan minum saja, akan tetapi diberikan kepada orang yang juga mampu menahan lisannya. Apabila kamu berpuasa wahai hamba Allah, maka jagalah pengelihatan, pendengaran, lisan, dan anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasamu. Jangan biarkan hari dimana kamu berpuasa sama dengan hari-hari biasa.
2. Qiyamullail (Menghidupkan Malam)
Nabi ﷺ bersabda:
من قام رمضان إيمانًا واحتسابًا غُفر له ما تقدم من ذنبه
"Siapa melaksanakan sholat malam di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini adalah himbauan penting wahai saudaraku, agar kamu menyempurnakan sholat tarawih bersama imam hingga selesai, supaya kamu dicatat sebagai orang-orang yang melaksanakan qiyam. Rasulullah ﷺ bersabda:
من قام مع إمامه حتى ينصرف كُتب له قيام ليلة
“Siapa yang sholat bersama imam hingga selesai, maka dicatat baginya pahala sholat semalam penuh.” (HR. Ahlus Sunan)
3. Memperbanyak Sedekah
Nabi ﷺ merupakan contoh dan teladan dalam semua kebaikan, salah satunya bersedekah.
عن ابن عباس قال: كان النبي ﷺ أجود الناس، وأجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل، وكان جبريل عليه السلام يلقاه في كل ليلة من رمضان، فيدارسه القرآن، فلرسول الله ﷺ أجود بالخير من الريح المرسلة.
Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata bahwasanya Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril 'Alaihissalam menemuinya. Sesungguhnya Jibril 'Alaihissalam kerapkali menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan, di mana Jibril 'Alaihissalam mengkaji Al-Qur'an bersama beliau. Sungguh Rasulullah ﷺ jauh lebih bermurah hati daripada angin yang berembus." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan Nabi ﷺ juga memotivasi umatnya untuk rajin bersedekah apalagi di bulan Ramadhan. Beliau ﷺ bersabda:
أفضلُ الصدقة في رمضان
“Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi).
Sedekah memiliki banyak bentuk, diantaranya:
A. Memberi makanan pada orang lain.
Para Salafus Sholih sangat memperhatikan amalan memberi makan, bahkan mereka sering mendahulukan sedekah daripada banyak ibadah lainnya, baik itu dengan mengenyangkan orang yang lapar atau memberi makan saudara yang shalih, dan tidak disyaratkan bahwa orang yang diberi makan harus miskin. Rasulullah ﷺ bersabda:
أيما مؤمنٍ أطعم مؤمنًا على جوعٍ أطعمه الله من ثمار الجنة، ومن سقى مؤمنًا سقاه الله من الرحيق المختوم
“Siapa saja seorang mukmin yang memberi makan mukmin lain dalam keadaan lapar, maka Allah akan memberinya makan dari buah-buahan surga, dan siapa yang memberi minum seorang mukmin, Allah akan memberinya minum dari minuman murni (ar-rahiq al-makhtum).” (HR. Tirmidzi).
B. Memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
"Siapa yang memberi makan berbuka kepada orang yang sedang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikitpun juga." (HR. At-Tirmidzi).
4. Memperbanyak membaca Al-Qur'an.
Bersemangatlah wahai saudaraku untuk selalu membaca Al-Qur'an dengan tadabbur dan khusyu' sebagaimana dahulu para Salaf melakukannya.
عن أبي هريرة قال : لما نزلت : (أفمن هذا الحديث تعجبون وتضحكون ولا تبكون)، بكى أصحاب الصفة حتى جرت دموعهم على خدودهم، فلما سمع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- حنينهم بكى معهم، فبكينا ببكائه، فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- :لا يلج النار من بكى من خشية الله
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika turun ayat
(أفمن هذا الحديث تعجبون وتضحكون ولا تبكون)
Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu tertawakan dan tidak menangis? (QS. An-Najm: 59-60)
Para Ahlu Shuffah menangis hingga air mata mereka membasahi pipi. Ketika Rasulullah ﷺ mendengar rintihan tangis mereka, beliau ﷺ pun ikut menangis bersama mereka, lalu kami pun ikut menangis karena tangisan beliau ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi).
5. Duduk di masjid hingga matahari terbit.
Sebagaimana kebiasaan Nabi ﷺ
كان النبي إذا صلى الغداة جلس في مصلاه حتى تطلع الشمس
Rasulullah ﷺ apabila telah selesai sholat al-ghodah (sholat subuh) beliau ﷺ duduk di masjid hingga matahari terbit (HR. Muslim)
عن أنس - رضي الله عنه - عن النبي ﷺ أنه قال:من صلى الفجر في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس، ثم صلى ركعتين كان له كأجر حجة وعمرة تامة تامة تامة
Dari Anas Rodhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang sholat Subuh berjamaah kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu melaksanakan sholat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna. (HR. At-Tirmidzi)
Keutamaan ini berlaku pada hari-hari biasa, maka bagaimana jika dilakukan pada bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat dan ampunan?
6. I’tikaf.
Menetap di masjid untuk beribadah dalam jangka waktu tertentu dan tidak keluar dari masjid kecuali hanya untuk memenuhi hajat yang penting. I'tikaf sangat dianjurkan terutama pada 10 malam terakhir Ramadhan.
كان النبي ﷺيعتكف في رمضان عشرة أيام، فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوماً
“Dahulu Rasulullah ﷺ ber-i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan pada tahun dimana beliau ﷺ wafat, beliau ﷺ ber-i’tikaf selama dua puluh hari” (HR. Bukhari).
7. Umrah pada bulan Ramadhan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عمرة في رمضان تعدل حجة
“Umrah pada bulan Ramadhan setara dengan pahala haji.” (HR. Bukhari)
8. Mencari Lailatul Qodar
Rasulullah ﷺ bersabda:
من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه
“Siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari)
Dahulu Rasulullah ﷺ mencari malam Lailatul Qodar dan memerintahkan para Sahabatnya untuk mencari malam tersebut, dan beliau ﷺ membangunkan keluarganya pada malam-malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan, dengan harap berjumpa dengan malam Lailatul Qodar yang terdapat di malam-malam yang ganjil.
Dalam hadits yang bersumber dari Aisyah Rodhiyallahu ‘Anha, beliau bertanya kepada Rasulullah ﷺ apa yang harus diucapkan jika bertemu dengan malam Lailatul Qodar? Rasulullah ﷺ:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, mencintai ampunan, maka ampunilah aku” (HR. Ahmad).
9. Memperbanyak dzikir, doa, dan istighfar.
Hari-hari dan malam-malam bulan Ramadhan adalah momen yang sangat mahal, maka manfaatkanlah dengan memperbanyak dzikir dan doa, terutama pada waktu-waktu yang mustajab, diantaranya:
A. Ketika berbuka puasa, maka orang yang berpuasa memiliki pemgkabulan doa yang tidak tertolak.
B. Sepertiga malam terakhir, karena pada malam tersebut Allah Ta'ala turun dan berfirman:
هل من سائل فأعطيه؟ هل من مستغفر فأغفر له
“Adakah hamba-Ku yang meminta (sesuatu) maka aku beri? Dan adakah hamba-Ku yang memohon ampunan maka aku ampuni?”
C. Beristigfar di waktu sahur, Allah Ta'ala berfirman:
وَبِالأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
"Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan" (QS. Az-Zariyat: 18).
D. Mencari waktu mustajab pada hari Jum’at, terutama waktu setelah Ashar.
1. Menjadikan malam sebagai siang atau sebaliknya.
2. Tidur hingga lalai dan meninggalkan sebagian sholat wajib.
3. Berlebihan ketika makan dan minum.
4. Berkata kotor dan emosi berlebihan.
5. Menyia-nyiakan waktu.
6. Mempercepat sahur (terlalu dini) dan tidur sebelum sholat Subuh.
7. Tidak melaksanakan sholat Tarawih secara sempurna tanpa adanya uzur.
8. Berkerumunan di jalanan dan berkumpul melakukan maksiat.
9. Berkumpul dengan rekan kerja untuk ghibah (menggunjing) dan namimah (mengadu domba).
10. Wanita yang sibuk menghabiskan hampir sebagian besar waktunya hanya di dapur.
1. Diwajibkan bagi orang yang berpuasa untuk berpuasa dengan ikhlas, mengharap keridhoan dan pahala dari Allah Ta'ala, bukan mengharapkan selainnya.
2. Dalam beberapa kasus, orang yang berpuasa mungkin terluka, mimisan, muntah, atau menelan air dan sejenisnya dengan tidak sengaja, maka hal-hal ini tidak membatalkan puasa jika terjadi karena ketidaksengajaan.
3. Diperbolehkan bagi orang yang berpuasa untuk berniat puasa (sebelum terbit fajar) dalam keadaan junub, kemudian mandi besar setelah terbit fajar, Adapun wanita yang sedang haid atau nifas, jika telah suci dari haid atau nifasnya sebelum terbit fajar maka dia harus segera bersuci dengan menyegerakan mandi besar, lalu melaksanakan sholat magrib dan isya secara jamak, lalu berniat puasa sebelum terbit fajar.
4. Diperbolehkan bagi orang yang berpuasa untuk bersiwak atau membersihkan mulutnya pada awal siang (pagi) maupun akhirnya (sore), dan hal ini adalah sunnah baginya sebagaimana orang yang tidak berpuasa. Namun dalam beberapa pendapat khususnya Syafi’i, bersiwak di sore hari hukumnya makruh.
5. Diwajibkan bagi orang yang berpuasa untuk memaksimalkan waktunya di bulan Ramadhan untuk beramal shaleh khususnya sholat, sedekah, membaca Al-Qur'an, dzikrullah, doa dan juga istighfar. Amalan-amalan ini merupakan amalan - amalan yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan Ramadhan; karena bulan Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk beribadah dan membersihkan hati dari hal-hal yang dapat merusaknya.
6. Diharuskan bagi orang yang berpuasa untuk menjernihkan jiwanya dan berhati-hati dari apapun yang dapat mengganggu orang lain baik secara perkataan maupun perilaku.
7. Asap atau debu yang terhirup oleh orang yang berpuasa secara tidak sengaja tidak merusak atau membatalkan puasanya; hal ini dikarenakan hal tersebut tidak mungkin dihindari.
8. Apabila orang yang berpuasa melihat saudara sesama muslimnya hendak makan pada siang hari di bulan Ramadhan karena lupa, maka wajib baginya untuk mengingatkannya, dan hal ini termasuk dalam tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
9. Diwajibkan bagi orang yang berpuasa untuk menjaga anggota tubuhnya dari berbagai dosa yang bisa disebabkan melalui perkataan yang diharamkan, melihat kepada yang diharamkan, mendengar hal yang diharamkan, serta makan dan minum dari sesuatu yang diharamkan.
10. Disunnahkan bersedekah pada bulan Ramadhan dan membaca Al-Qur’an, dalam rangka mencontoh Nabi ﷺ dan mengharap pahala.
11. Diantara sebab diterimanya ampunan dan taubat pada bulan Ramadhan ialah menjadikan seluruh amalan yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan semata-mata ikhlas hanya kepada Allah Ta'ala serta mengharap pahala dari amalan tersebut.
12. Dianjurkan berpuasa bagi orang yang diperbolehkan tidak berpuasa jika hal itu tidak memberatkannya. Allah berfirman: “Dan berpuasa lebih baik bagimu” (QS. Al-Baqarah: 184).
13. Menghidupkan malam Lailatul Qodar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan dan Al-Qur’an turun pada malam tersebut. Allah berfirman: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an” (QS. Al-Baqarah: 185).
14. Para Malaikat memohonkan ampunan bagi orang-orang yang puasa sampai waktu berbuka.
15. Bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan sabar balasannya adalah surga.
16. Orang-orang yang berpuasa diampuni pada akhir malam bulan Ramadhan, karena seseorang diberi balasan setelah selesai amalannya.
17. Pada bulan Ramadhan, Allah menurunkan rahmat-Nya, mengampuni kesalahan-kesalahan dan mengabulkan doa-doa para hamba-Nya.
18. Waspadalah dari berbuka pada bulan Ramadhan tanpa halangan yang dibenarkan syariat, dan apabila hal itu terjadi padamu maka segeralah bertaubat dan mengganti puasa tersebut di bulan lain.
19. Berilah makanan untuk berbuka puasa kepada saudaramu yang berpuasa juga; agar engkau mendapatkan pahala seperti pahala puasa mereka.
20. Jagalah sholat lima waktu berjamaah pada waktunya, agar engkau mendapatkan pahala serta perlindungan dari Allah Ta'ala selama bulan Ramadhan.
21. Perbanyaklah sedekah, karena sedekah yang paling baik dan utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan.
22. Jangan sampai waktu-waktumu di bulan Ramadhan hilang tanpa amal saleh; karena engkau akan dipertanyakan pada hari kiamat tentang waktu-waktu tersebut.
23. Laksanakanlah umroh di bulan Ramadhan karena pahala umroh di bulan Ramadhan setara dengan pahala haji.
24. Usahakan agar kamu keluar dari bulan Ramadhan dengan tingkat ketakwaan yang lebih tinggi dan keistiqomahan dalam mengerjakan amal sholeh serta meninggalkan dosa dan maksiat.
25. Jangan jadikan puasa alasan atas kemarahanmu, namun jadikanlah puasa sebab bagi ketenangan jiwamu.
26. Berpuasalah enam hari di bulan Syawwal karena barangsiapa yang berpuasa Ramadhan lalu mengikutinya dengan berpuasa di bulan Syawwal maka seolah-olah ia berpuasa satu tahun penuh.
27. Teruslah meningkatkan iman dan takwa setelah bulan Ramadhan sampai ajal menjemputmu.
28. Perbanyaklah shalawat beserta salam kepada Nabi kita Muhammad ﷺ dan kepada keluarganya, sahabatnya serta para pengikutnya sampai hari akhir.
29. Sesungguhnya kaum muslimin telah sepakat bahwa puasa di bulan Ramadhan hukumnya wajib, maka siapa yang mengingkari kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan maka telah jatuh kepadanya hukum riddah (murtad) dan wajib baginya untuk segera bertaubat kepada Allah Ta'ala.
30. Puasa diwajibkan pada tahun kedua hijriyyah dan Nabi Muhammad ﷺ telah berpuasa di bulan Ramadhan sebanyak sembilan kali dalam hidupnya.
1. Zakat Fitrah adalah zakat badan dan jiwa yang diwajibkan karena akan berbuka (menyelesaikan) puasa Ramadhan.
2. Hukumnya wajib bagi setiap muslim atas dirinya dan orang-orang yang nafkahnya menjadi tanggung jawabnya.
3. Takaran zakat fitrah adalah 1 sho’ dari makanan pokok daerah tersebut, jika dia memiliki makanan untuk dirinya dan keluarganya pada hari raya iedul fitri dan malamnya.
4. Satu sho' sama dengan 4 mud, dan 1 mud setara dengan ukuran dua telapak tangan orang dewasa berukuran sedang, atau beratnya lebih kurang 3kg.
5. Zakat fitrah yang terbaik adalah makanan pokok yang paling bermanfaat bagi orang-orang fakir miskin.
6. Waktu mengeluarkan zakat fitrah paling lambat pada hari raya iedul fitri sebelum dilaksanakannya sholat ied, boleh sehari atau dua hari sebelumnya, dan tidak boleh menunda mengeluarkan zakat fitrah sampai lewat dari batas akhir pengeluarannya tanpa udzur, jika terjadi demikian, maka zakatnya tidak diterima (sebagai zakat fitrah) melainkan terhitung sebagai sedekah biasa.
7. Tempat mengeluarkan zakat fitrah (lebih utama) adalah di negeri tempat tinggal pada waktu mengeluarkan zakat.
8. Tidak diperbolehkan mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk nilai atau uang menurut Jumhur Ulama, karena hal itu menyelisihi Sunnah Nabi ﷺ.
9. Zakat diberikan kepada 8 golongan yang berhak menerima zakat pada umumnya, dan yang paling utama menerimanya adalah orang fakir, orang miskin, dan orang yang terlilit hutang.
10. Wajib hukumnya zakat itu telah sampai dan diterima oleh si penerima zakat atau yang mewakilinya pada waktu mengeluarkannya.
Wahai saudaraku seiman, janganlah sekali-kali meninggalkan puasa pada bulan Ramadhan. Andai sekiranya seseorang sengaja tanpa uzur meninggalkan atau membatalkan satu hari puasa di bulan Ramadhan, maka ia tidak akan bisa menebusnya, walaupun ia berpuasa seumur hidup. Maka istiqomahlah dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala di bulan Ramadhan dan bulan-bulan setelah Ramadhan. Jadikan bulan Ramadhan sebagai pijakan awal dari perubahan menjadi lebih baik, dari pribadi yang memiliki kebiasaan buruk berubah menjadi pribadi yang taat beribadah dan mencintai amal sholeh.
Semoga Allah Ta'ala menerima semua amalan kita dan menjadikan kita termasuk dari golongan orang-orang yang dirahmati, diampuni, dan dibebaskan dari api neraka, serta dijadikan kita dari penghuni surga-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Allahumma Aamiin.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Sumber tulisan dari buletin berbahasa Arab (أقبلت يا رمضان) dengan beberapa penyesuaian yang diterjemahkan oleh Tim Imam Asy-Syafi'i: Umar Al-Faaruq, Zidan Rakhazlan Fikri, dan Fathan Pasundan (para santri Ma'had Tahfizh Al-Yusro yang tergabung dalam keanggotaan BPIP) dibawah bimbingan kepala BPIP, Al-Ustadz Anfal Yalda -Hafizhahullah-.
Nabi ﷺ Bersabda : "Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya". [HR. Muslim: 1893]
klik tombol di bawah untuk bagikan informasi ini,
جزاكم الله خيرا