Logo WhatsApp Ma'had Al Yusro Logo Instagram Ma'had Al Yusro Logo YouTube Ma'had Al Yusro Logo Facebook Ma'had Al Yusro
Temukan Informasi Yang Anda Cari

Bermegah-megahan Telah Melalaikan Kamu

kembali Khutbah Fiqih prestasi Kegiatan Santri Kerjasama Aqidah Materi Kuttab Karya Tulis BPIP
Bermegah-megahan Telah Melalaikan Kamu
Description of Bermegah-megahan Telah Melalaikan Kamu
101 Views
2026-04-13 09:45:00

Kisah ini merupakan pengingat bagi setiap muslim agar tidak lalai dan tidak membiarkan kesibukan mencari harta menghalangi mereka dari menuntut ilmu agama dan mempersiapkan bekal untuk akhirat. 

Maimun adalah seorang pengusaha. Suatu hari, ia mengajak anak laki-lakinya yang berusia sepuluh tahun ke Masjidil Haram. Anak tersebut adalah anak yang cerdas dan tanggap. Setelah menunaikan shalat fardhu berjamaah, muazzin berseru:

الصلاة على الأموات يرحمكم الله

Shalat jenazah atas orang-orang yang telah wafat -semoga Allah merahmati kalian-.


Sang ayah (si Maimun) pun ikut shalat jenazah bersama anaknya. Setelah selesai shalat, sang anak menoleh kepada ayahnya dan bertanya: "Ayah, apa yang kita ucapkan dalam shalat jenazah?!"

Sang ayah terkejut mendengar pertanyaan itu! Ternyata ia tidak tahu jawabannya, dan tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari akan ada seseorang yang menanyakan hal itu kepadanya. Ia pun terbata-bata, berdeham, lalu berkata: "Wahai anakku, kita sedang terburu-buru sekarang ... aku akan memberitahumu nanti."

Di dekat mereka, duduklah seorang pria yang tampak seperti orang berilmu (ahli agama). Ia telah mendengar percakapan antara keduanya. Pria itu kemudian mengusap kepala sang anak seraya berkata: "Aku kagum atas rasa ingin tahumu yang besar, wahai anak. Aku memohon kepada Allah agar memberimu pemahaman dalam agama-Nya."

Kemudian pria itu melanjutkan: "Tata cara shalat jenazah, wahai anak, adalah seperti yang baru saja kita kerjakan ... kita bertakbir empat kali. Setelah takbir pertama, kita membaca Surah Al-Fatihah. Setelah takbir kedua, kita membaca:

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد، كما صليت على إبراهيم، وعلى آل إبراهيم، إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد، وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم، وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Setelah takbir ketiga, kita mendoakan mayat. Adapun setelah takbir keempat, kita diam sejenak lalu mengucapkan salam."

Sang anak bertanya: "Paman, doa apa yang kita baca untuk mayat (pada takbir ketiga) ?!"

Paman: "Doanya banyak wahai anak, di antaranya adalah kita mengucapkan:

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأكرم نزله ووسّع مدْخله واغسله بالماء والثلج والبرد ونقه من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس، اللهم أبدله داراً خيراً من داره، وأهلاً خيراً من أهله وزوجاً من زوجه، وأدخله الجنّة، وأعذه من عذاب القبر، ومن عذاب النّار.

Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dia, dan maafkanlah dia. Muliakanlah tempat persinggahannya, luaskanlah jalan masuknya, mandikanlah dia dengan air, salju, dan air sejuk. Bersihkanlah dia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan pakaian putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, dan pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Masukkanlah dia ke dalam surga, serta lindungilah dia dari azab kubur dan azab neraka. (HR. Muslim).

Anak: "Jika yang meninggal adalah anak kecil, apa yang kita ucapkan?"

Paman: "Kita ucapkan:

اللهم اجعله لنا فرطا وسلفا وأجرا.

Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan pendahulu, titipan, dan pahala bagi kami. (HR. Bukhari).

Si pria (Paman) berkata kepada Ayah: "Maaf jika saya mengganggu waktumu, tapi saya kagum dengan semangat anakmu! Bimbinglah ia dengan baik, aku berharap kepada Allah agar menjadikannya bagian dari orang-orang yang berilmu."

Ayah: "Aamiin ... Semoga Allah membalas kebaikanmu atas faedah ilmu yang telah kamu berikan kepadaku dan anakku, terimakasih atas caramu menyampaikan serta keluhuran akhlakmu."

Anak bertanya kembali: "Aku dengar ada pahala bagi orang yang menyalati jenazah?!"

Paman: "Iya, ada pahala yang besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

من شهد الجنازة حتى يُصلَّى عليها فله قيراط، ومَن شهدَها حتى تُدفَنَ فله قيراطان، قيل: وما القيراطان؟ قال: مثل الجبلَين العظيمين.

Siapa yang menghadiri jenazah hingga dishalati, maka baginya pahala satu qirath. Dan siapa yang menghadirinya hingga dimakamkan, maka baginya dua qirath.' Ditanyakan: 'Apa itu dua qirath?' Beliau bersabda: 'Seperti dua gunung yang besar.' (Muttafaq 'Alaih).

Ayah: "Perniagaan telah menyibukkanku dari menuntut ilmu, dan aku tidak ingin anakku tersibukkan (hal yang sama) juga. Maka, apa nasihatmu untukku?"

Pria itu menoleh kepada sang Ayah, lalu berkata: "Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa kesibukan dalam memperbanyak harta dan anak adalah penyebab kelalaian dari mengingat kematian, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

 ياأيها الذين آمنوا لا تلهكم أموالكم ولا أولادكم عن ذكر الله ومن يفعل ذلك فأولئك هم الخاسرون، وأنفقوا من ما رزقناكم من قبل أن يأتي أحدكم الموت فيقول رب لولا أخرتني إلى أجل قريب فأصدق وأكن من الصالحين، ولن يؤخر الله نفسا إذا جاء أجلها والله خبير بما تعملون.

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesal): 'Wahai Rabbku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematianku) sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh. Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS.Al-Munafiqun: 9-11).

Dan disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Asy-Syikhkhir radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

انتهيت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يقول : " ( ألهاكم التكاثر ) يقول ابن آدم : مالي مالي . وهل لك من مالك إلا ما أكلت فأفنيت ، أو لبست فأبليت ، أو تصدقت فأمضيت ؟

Aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat beliau sedang membaca: 'Bermegah-megahan telah melalaikanmu'. Beliau bersabda: 'Anak Adam berkata: Hartaku! Hartaku! Padahal tidak ada bagian dari hartamu kecuali apa yang telah kamu makan lalu habis, apa yang kamu pakai lalu usang, atau apa yang kamu sedekahkan lalu tetap (pahalanya).' (HR. Muslim).

Demikian pula diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يقول العبد : مالي مالي ؟ وإنما له من ماله ثلاث : ما أكل فأفنى ، أو لبس فأبلى ، أو تصدق فاقتنى وما سوى ذلك فذاهب وتاركه للناس.

Seorang hamba berkata: Hartaku! Hartaku! Padahal sesungguhnya harta miliknya hanya ada tiga: Apa yang ia makan lalu habis, apa yang ia pakai lalu usang, atau apa yang ia sedekahkan lalu ia simpan (pahalanya). Selain itu, semuanya akan musnah dan ia tinggalkan untuk orang lain. (HR. Muslim).

Ayah: Lalu apa yang harus dilakukan?

Si pria menjawab: "Sesungguhnya kesibukan kita dengan urusan dunia, kemegahannya, dan upaya untuk memperbanyak harta di dalamnya telah membuat kita lalai dalam mengingat kematian dan akhirat. Kita telah melupakan kematian hingga salah satu dari kita tidak lagi mengingatnya kecuali jika kerabat atau tetangganya meninggal dunia, atau saat menyalati jenazah! Padahal, harta itu akan sirna dan tidak ada yang tersisa bagi seorang hamba kecuali apa yang telah ia amalkan. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يتبع الميت ثلاثة ؛ فيرجع اثنان، ويبقى معه واحد، يتبعه أهله وماله وعمله، فيرجع أهله وماله، ويبقى عمله.

Ada tiga hal yang mengikuti mayat (ke kubur), dua akan kembali dan satu akan tetap tinggal: Ia diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap tinggal. (HR. Bukhari).

Selesai.

Sumber tulisan dari buletin berbahasa Arab ألهاكم التكاثر dengan beberapa penyesuaian yang diterjemahkan oleh Tim Imam Malik: Muhamad Rahmad, Oryza Sativa, dan Don Enriko (para santri Ma'had Tahfizh Al-Yusro yang tergabung dalam keanggotaan BPIP) dibawah bimbingan kepala BPIP, Al-Ustadz Anfal Yalda -Hafizhahullah-.
Penulis: Bidang Penelitian Ilmiah dan Perpustakaan (BPIP)

Nabi ﷺ Bersabda : "Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya". [HR. Muslim: 1893]

klik tombol di bawah untuk bagikan informasi ini,
‎جزاكم الله خيرا

kembali Khutbah Fiqih prestasi Kegiatan Santri Kerjasama Aqidah Materi Kuttab Karya Tulis BPIP