Logo WhatsApp Ma'had Al Yusro Logo Instagram Ma'had Al Yusro Logo YouTube Ma'had Al Yusro Logo Facebook Ma'had Al Yusro
Temukan Informasi Yang Anda Cari

Biografi Imam Ahmad

kembali Khutbah Fiqih prestasi Kegiatan Santri Kerjasama Aqidah Materi Kuttab Karya Tulis BPIP
Biografi Imam Ahmad
Description of Biografi Imam Ahmad
90 Views
2026-08-31 10:08:46

Imam Ahmad bin Hambal adalah salah seorang dari Imam empat mazhab fiqih yang termasyhur di kalangan umat Islam. Pada tulisan ini kami akan memaparkan biografi beliau rahimahullah. 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ. 

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada pimpinan para nabi dan rasul, junjungan dan pelindung kami, Nabi Muhammad, serta kepada Keluarga dan seluruh Sahabatnya. Amma ba'du. 

 ◆ Nama dan Nasab Beliau

Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Asad, Asy-Syaibani, kemudian Al-Marwazi, kemudian Al-Baghdadi. Beliau dikenal dengan sebutan Abu ‘Abdillah.

 ◆ Kelahiran dan Tumbuhnya Beliau

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah lahir di kota Baghdad tahun 164 Hijriah, dan beliau tumbuh dan besar di kota Baghdad, dan ayah beliau wafat kala beliau masih kecil dan ibunya merawatnya dan mengasuhnya.

◆ Kisah Beliau Menuntut Ilmu

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah telah menyelesaikan hafalan Al-Quran sejak kecil, lalu di lanjutkan dengan mempelajari Hadist Rasulullah ﷺ dan beliau menyusun sebuah buku dengan hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang telah beliau pelajari. Dan beliau terus menuntut ilmu sepanjang hidupnya, serta berkelana dan bepergian demi hal tersebut. Maka para sahabat-sahabat beliau terheran-heran terhadap ilmu yang beliau pelajari tanpa ada rasa jenuh dalam dirinya, lalu mereka bertanya kepadanya: “Wahai Ahmad! Sampai kapan engkau menuntut ilmu, dan engkau telah berada di posisi kedudukan yang sangat tinggi ini, dan telah menjadi imam kaum Muslimin?” maka beliau menjawab: “Bersama tempat tinta (pena) hingga ke liang kubur”. 

Dan beliau selalu bertalaqqi (mengambil ilmu langsung) dari guru-guru terbaiknya, diantaranya: Imam Asy syafi’I, Abu Yusuf (sahabat Abu Hanifah), Sufyan bin ‘Uyainah, Abdurrazzaq bin Hamma, Abdurrahman bin Mahdi, dan lain-lain.

◆ Kedudukan Keilmuan Beliau 

Beliau adalah Imam Ahlussunnah wal Jamaah yang telah disepakati keluasan dan kedalaman ilmunya. Beliau adalah penutup dari empat Imam besar dalam pandangan Ahlussunnah wal Jamaah, dan kepada beliaulah mazhab Hambali dinistbatkan.

◆ Pengaruh Keilmuan Beliau

Beliau membawa pengaruh besar terhadap umat Islam terutama karya ilmiahnya yang paling terkenal adalah Al-Musnad. Imam Ahmad telah mengumpulkan dan menulis hadis di dalam Al-Musnad sepanjang hidupnya, dan jumlah hadist yang terdapat pada kitabnya mencapai 30.000 hadist dan telah diterbitkan dalam 50 jilid.

Banyak dari murid-muridnya telah menimba ilmu dari beliau, di antara mereka adalah kedua putranya, Shalih dan ‘Abdullah. Dan di antara orang-orang yang meriwayatkan dari beliau, di antaranya adalah para imam ternama seperti Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Ali bin Al-Madini, Imam Abu Bakr Al-Marwadzi, serta para ulama terkenal lainnya.

Beliau selalu berada di masjid untuk mengajarkan ilmu agama di Baghdad kala itu sehingga orang-orang pun berkumpul di majelisnya. Dan jumlah orang yang menimba ilmu dari beliau di majelisnya mencapai 5.000 orang atau lebih dari itu, dan mereka mempelajari ilmu dan adab dari beliau. Madzhab beliau tersebar dan meluas di Irak, Syam (sekarang di Suriah, Yordania, Lebanon, dan Palestina), Najd (sekarang di Arab Saudi) hingga saat ini.

◆ Pujian Para Ulama kepada Beliau

Berkata Imam Asy-Syafi’i: “Aku meninggalkan kota Baghdad, dan aku tidak meninggalkan seorang pun di sana yang lebih utama, lebih berilmu, lebih faqih, dan lebih bertakwa daripada Ahmad bin Hanbal.”

Berkata Ar-Rabi' bin Sulaiman: “Imam syafi’i berkata kepada kami: "Ahmad adalah seorang imam dalam delapan perkara: imam dalam ilmu hadis, imam dalam fikih, imam dalam bahasa, imam dalam Al-Qur'an, imam dalam kesederhanaan, imam dalam zuhud, imam dalam wara', dan imam dalam sunnah.”

Berkata Yahya bin Ma'in: “Orang-orang ingin menjadi seperti Ahmad bin Hanbal, tetapi kalian tidak akan mampu menyamai Ahmad, dan tidak pula mampu menempuh jalan seperti jalan yang ditempuh Ahmad.”

Berkata Al-Haitsam bin Jamil: “Aku berharap sebagian dari umurku dikurangi dan ditambahkan kepada umur Ahmad.”

Berkata Ahmad bin Sa'id Ad-Darimi: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang rambutnya telah menghitam -maksudnya seorang laki-laki/dewasa- yang lebih kuat hafalannya terhadap hadits Rasulullah ﷺ dan lebih memahami makna fikih hadis-hadis tersebut daripada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal.”

Berkata Abu Umair 'Isa bin Muhammad Al-Ramli: “Dalam menghadapi cobaan dunia, betapa sangat sabarnya beliau. Dalam menyerupai orang-orang terdahulu (para salaf), betapa sangat serupanya beliau dengan mereka. Dan dalam mengikuti orang-orang saleh, betapa sangat dekatnya beliau dengan mereka! Ditawarkan kepadanya kemewahan dunia tapi beliau tidak menginginkannya. Diuji beliau untuk menerima bid'ah tapi beliau tolak (beliau tetap berpegang pada Sunnah) .”

Berkata Qutaibah: “Jika kamu melihat seseorang mencintai Ahmad bin Hanbal, maka ketahuilah bahwa dia adalah orang yang berpegang kepada Sunnah dan jamaah.”

Berkata Abu Ubaid: “Ahmad bin Hanbal adalah imam kami.” Ia juga berkata: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mengetahui tentang Sunnah daripada beliau.” Dan ia berkata: “Kedua mataku belum pernah melihat orang seperti Ahmad bin Hanbal.” Kemudian ketika ditanya mengenai keilmuannya, ia menjawab: “Dalam ilmu, zuhud, fikih, pengetahuan, dan segala kebaikan, kedua mataku belum pernah melihat orang yang seperti beliau.”

Berkata Imam Nawawi: “Beliau adalah seorang imam yang sangat unggul dan memiliki keilmuan yang mendalam. Para ulama sepakat atas keagungan dan kepemimpinannya dalam ilmu, sifat wara‘dan kezuhudannya, kuatnya hafalan beliau, luasnya ilmu beliau, serta kedudukannya yang tinggi.”

Para ulama banyak memberikan pujian kepadanya, bahkan pujian tersebut terlalu banyak untuk dicantumkan dalam ringkasan singkat ini. Semoga Allah Ta‘ala merahmatinya.

◆ Kisah dari Kehidupan Beliau

Berkata Abu Dawud: “Majelis Imam Ahmad lebih banyak membahas tentang akhirat dan agama. Di majelis Imam Ahmad, orang-orang tidak membicarakan urusan dunia. Aku tidak pernah melihat beliau membicarakan dunia sama sekali. Beliau tidak mengambil hadiah dari pemimpin manapun sekalipun betapa fakirnya beliau. Beliau memilih sabar. Semoga Allah merahmati beliau. Salah satu karya beliau kitab Az Zuhd, sebaik-baik kitab dalam bab Zuhud."

Dikisahkan bahwa Al-Hasan bin Abdul Aziz al-Jarawi datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal membawa tiga kantong uang. Setiap kantong berisi 1.000 dinar. Lalu ia berkata: “Wahai Abu Abdullah, ini adalah harta warisan yang halal. Ambillah dan gunakan untuk membantu kebutuhan keluargamu.” Imam Ahmad menjawab: “Aku tidak membutuhkannya. Aku sudah berkecukupan.” Kemudian beliau mengembalikan uang tersebut dan tidak mengambil sedikit pun darinya.

Diceritakan dari Ishaq bin Musa al-Anshari, beliau berkata: “Khalifah al-Ma'mun memberiku sejumlah uang dan berkata: "Serahkan uang ini kepada para ahli hadits, karena di antara mereka ada orang-orang yang membutuhkan". Kemudian uang itu dibagikan kepada mereka. Hampir semua orang mengambilnya, kecuali Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau menolak untuk menerimanya.

Kisah berikutnya dari Abu Bakar al-Marwazi, beliau berkata bahwa Imam Ahmad pernah berkata: "Aku tidak menganggap ada sesuatu yang lebih baik daripada hidup sederhana dan tidak banyak harta. Aku senang ketika tidak memiliki apa-apa.”

◆ Kisah Doa Beliau

Diriwayatkan oleh Ibnu al-Jauzi dari Ali bin Abi Haroroh, ia berkata: “Ibuku pernah mengalami sakit yang berlangsung selama dua puluh tahun. Suatu hari ia berkata kepadaku: "Jumpailah Ahmad bin Hanbal dan mintalah beliau untuk mendoakanku." Aku pun pergi menemui Imam Ahmad dan mengetuk pintu rumah beliau, beliau bertanya: “Siapa?”. Aku menjawab: “Aku laki-laki dari keluarga yang tinggal di daerah ini. Ibuku sudah lama sakit dan ia memintaku untuk menemuimu agar kamu mendoakannya.” Kemudian aku mendengar Imam Ahmad berkata dengan nada marah: “Justru kami lebih butuh didoakan”. Aku pun segera beranjak lalu tiba tiba seorang wanita tua keluar dari rumah Imam Ahmad dan berkata:"kamu yang tadi berbicara dengan Abu Abdillah?. Aku menjawab: "Iya". Lalu wanita tua berkata: "Kamu telah meninggalkannya saat ia mendoakan ibumu". Aku pun bergegas pergi dan ketika sampai di rumah, ibuku membukakan pintu sambil berjalan dan berkata: “Allah telah memberikan kepadaku kesembuhan.”

◆ Keteguhan dan Kesabaran Beliau

Imam Ahmad pernah mengalami ujian dan tekanan dari penguasa kala itu. Penyebabnya ialah munculnya bid‘ah yang berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Beliau dipukul dengan cambukan yang sangat keras, kemudian dipenjarakan. Namun, beliau tetap teguh mempertahankan pendapat bahwa Al-Qur’an bukanlah makhluk. beliau menolak pendapat yang batil tersebut dan mengatakan: “Al-Qur’an adalah Kalamullah (firman Allah Ta ‘ala), bukan makhluk (sesuatu yang diciptakan)”.

Siksaan dan penjara itu beliau dapatkan pada  tiga masa kekhalifaan Abbasiyyah, yaitu Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq. Beliau bersabar sampai akhirnya Allah memberikan pertolongan kepada beliau dalam menghadapi para ahli bid‘ah. Beliau dibebaskan dan kembali mendapat pemuliaan dan penghormatan sebagai ulama besar di masanya pada masa kekhalifaan Al-Mutawakkil.

Ali bin al-Madini berkata: “Sesungguhnya Allah Ta'ala telah memuliakan agama ini dengan dua orang laki-laki. Tidak ada yang ketiga bagi keduanya: Abu Bakar ash-Shiddiq pada hari terjadinya riddah (kemurtadan), dan Ahmad bin Hanbal pada hari terjadinya mihnah (ujian/fitnah).”

Dari Maimun bin al-Ashbagh, ia berkata: Aku berada di Baghdad. Kemudian aku mendengar suara keributan. Aku bertanya, ‘Apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ahmad bin Hanbal sedang dicambuk". Kemudian ketika beliau dicambuk, beliau mengucapkan, "Bismillah". Ketika cambukan kedua diberikan, beliau berkata, "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh" (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Ketika cambukan ketiga diberikan, beliau berkata, "Al-Qur’an adalah Kalamullah (firman Allah), bukan makhluk". Ketika cambukan keempat diberikan, beliau membaca firman Allah (QS. At-Taubah Ayat 51):

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا

"Katakanlah: Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi kami."

Kemudian beliau dicambuk 29 kali.

◆ Perhatian Beliau kepada Diri Sendiri

Abdul Malik al-Maimuni berkata: “Aku tidak mengetahui pernah melihat seseorang yang lebih memperhatikan kebersihan dan kerapian dirinya daripada Ahmad bin Hanbal.” Beliau melanjutkan: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih menjaga kebersihan pakaian dan rambutnya, serta lebih memperhatikan kebersihan tubuhnya, daripada Ahmad bin Hanbal.”

◆ Menjaga Sunnah Nabi ﷺ

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku mendengar Abu Zur'ah berkata: Ahmad bin Hanbal telah menghafal satu juta hadits.” Kemudian beliau ditanya: “Bagaimana kamu bisa mengetahui hal itu?” Beliau menjawab: “Aku menghitungnya dari catatan-catatan yang beliau miliki.”

◆ Mengamalkan Sunnah Nabi ﷺ

Al-Marwadzi berkata: “Ahmad pernah berkata kepadaku: Aku tidak pernah menulis satu hadits pun dari Nabi ﷺ kecuali aku telah mengamalkannya.” Kemudian beliau menceritakan: “Aku membaca sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah berbekam dan memberikan kepada tukang bekam upah berupa satu dinar. Maka ketika aku berbekam, aku juga memberikan kepada tukang bekam satu dinar.”

◆ Meninggalkan Pembicaraan Unfaedah

Abu Dawud berkata: “Aku bertemu dengan dua orang ulama besar. Aku tidak pernah melihat seseorang seperti Ahmad bin Hanbal, yang tidak suka mencampuri pembicaraan orang lain. Namun, ketika ilmu disebutkan, beliau langsung berbicara.”

◆ Makna Cinta kepada Allah ﷻ

Imam Ahmad ditanya tentang cinta kepada Allah. Beliau menjawab: “Cinta kepada Allah adalah tidak mencintai sesuatu karena mengikuti hawa nafsu atau keinginan dunia".

◆ Nasehat Beliau kepada Putranya Abdullah

Imam Ahmad berkata: “Wahai anakku, sebarkanlah kebaikan, karena kamu akan selalu mendapatkan kebaikan selama kamu menyebarkan kebaikan.”

◆ Kerendahan Hati Beliau

Ketika Imam Ahmad diberi ucapan: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam.” Beliau menjawab: “Tidak, justru semoga Allah membalas Islam atas kebaikan yang dilimpahkan kepadaku".Kemudian beliau berkata: “Siapalah aku?! Dan apa jasaku?!

Abu ‘Utsman asy-Syafi‘i berkata: “Orang-orang akan terus mendapatkan manfaat dari ilmu yang kamu miliki". Lalu Imam Ahmad menjawab: “Jangan katakan ini kepadaku, wahai Abu ‘Utsman! Jangan katakan hal seperti ini. Siapakah aku dibandingkan dengan manusia lainnya?!”

◆ Beliau dan Perkataan Aku Tidak Tahu

Al-Marwadzi berkata: “Aku pernah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang banyak hal, tetapi beliau menjawab, ‘Aku tidak tahu.’”

◆ Ibadah Beliau

Imam Ahmad selalu melaksanakan salat sunnah setiap hari dan malam sebanyak 300 rakaat. Beliau juga mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh hari sekali. Abdullah bin Ahmad berkata: “Ayahku (Imam Ahmad) melaksanakan ibadah haji sebanyak lima kali: dua kali dengan berjalan kaki dan tiga kali dengan menaiki kendaraan".

◆ Wafatnya Beliau

Imam Ahmad bin Hanbal wafat pada hari Jumat di kota Baghdad dan dimakamkan di sana. Beliau wafat pada tahun 241 H, dalam usia 77 tahun. Jenazah beliau diiringi oleh orang yang sangat banyak. Banyak sekali manusia yang menghadiri pemakamannya.

Diriwayatkan dari Abu al-Hasan at-Tamimi, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa ia menghadiri pemakaman Imam Ahmad bin Hanbal. Ia berkata: “Aku menunggu sepanjang pekan dengan harapan bisa sampai ke makam beliau. Namun karena banyaknya orang yang berdesak-desakan di sekitar makamnya, aku belum bisa sampai ke sana. Setelah berlalu satu pekan, barulah aku berhasil sampai ke makam beliau.” Semoga Allah Ta'ala merahmati beliau dengan rahmat yang luas.

◆ Faedah dari Biografi Beliau 

1.

طَلَبُ الْعِلْمِ لَا يَنْتَهِي وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ بَدَايَةِ الطَّلَبِ إِلَى الْمَوْتِ

(Menuntut ilmu tidak pernah berakhir. Menuntut ilmu dimulai sejak seseorang mulai belajar hingga meninggal dunia)

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Ahmad dan para imam  lainnya.

2.

إِجْمَاعُ الْعُلَمَاءِ وَالْأَئِمَّةِ عَلَى حُبِّ الْإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ

(Para ulama dan imam sepakat mencintai Imam Ahmad bin Hanbal dan memuji beliau)

Maksudnya, Imam Ahmad dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki kedudukan tinggi dan dihormati oleh banyak ulama.

3.

نَتَعَلَّمُ مِنْهُ الزُّهْدَ فِي الدُّنْيَا وَالْوَرَعَ، وَكَيْفَ أَنَّهُ لَا يَطْلُبُ حَاجَتَهُ إِلَّا مِنَ اللهِ تَعَالَى

(Kita belajar dari beliau tentang sikap zuhud terhadap dunia dan sifat wara‘)

Beliau tidak menggantungkan kebutuhan dirinya kepada manusia, tetapi meminta kebutuhannya hanya kepada Allah Ta'ala.

  • Zuhud = meninggalkan hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat sekalipun itu mubah.
  • Wara ‘= meninggalkan hal yang haram dan syubhat. 

4.

نَتَعَلَّمُ مِنْهُ الصَّبْرَ وَالثَّبَاتَ عَلَى الْحَقّ

(Kita belajar dari beliau tentang kesabaran dan keteguhan dalam memegang kebenaran)

Beliau pernah menolak pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk, dan beliau tetap berpegang pada keyakinan bahwa:

الْقُرْآنُ كَلَامُ اللهِ تَعَالَى

(Al-Qur'an adalah firman Allah Ta'ala)

 5.

 عنايته بنفسه رغم زهده في الدنيا

(Perhatiannya terhadap dirinya sendiri meskipun beliau zuhud terhadap dunia)

 6.

 العمل بالعلم

(Mengamalkan ilmu)

Kita belajar dari Imam Ahmad bahwa tidak seharusnya seseorang berbicara atau menyampaikan hadits kecuali jika ia juga mengamalkannya. Jadi, ilmu tidak cukup hanya dipelajari dan disampaikan, tetapi harus diamalkan.

 7.

ترك كثرة الكلام وفضوله

(Meninggalkan banyak bicara dan pembicaraan yang tidak bermanfaat)

Imam Ahmad bin Hanbal tidak ikut-ikutan berbicara dalam sesuatu yang unfaedah sebagaimana kebanyakan orang. Jika yang diperbincangkan itu ilmu, barulah beliau berbicara. 

8.

 مفهوم الحب في الله عند الإمام أحمد بن حنبل

(Makna mencintai karena Allah menurut Imam Ahmad bin Hanbal)

Beliau mengajarkan bahwa kita tidak boleh mencintai seseorang hanya karena ingin mendapatkan keuntungan atau kepentingan dunia. Namun, kita mencintainya karena Allah dan karena ketaatannya kepada Allah.

9.

نية الخير

(Niat Baik)

Seseorang harus selalu memiliki niat baik di dalam hatinya sebagaimana nasehat Imam Ahmad kepada anaknya.

10.

الحذر من التكلم من دون علم

(Berhati-hati untuk berbicara tanpa ilmu)

Maksudnya, jangan berbicara atau memberikan pendapat tentang sesuatu yang tidak kita ketahui.

11.

 قول «لا أدري»

(Perkataan Aku tidak tahu)

Imam Ahmad bin Hanbal sering mengatakan: Aku tidak tahu. Ini menunjukkan bahwa mengakui tidak tahu bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru lebih baik mengatakan “saya tidak tahu” daripada menjawab sesuatu tanpa ilmu.

 12.

نَتَعَلَّمُ مِنْهُ التَّوَاضُعَ

(Kita belajar sifat tawadhu atau rendah hati dari beliau)

Walaupun beliau seorang ulama besar dan banyak dipuji beliau tidak sombong dan tidak merasa dirinya hebat.

13.

نَتَعَلَّمُ مِنْهُ التَّعَبُّدَ لِلَّهِ تَعَالَى

(Kita belajar dari beliau tentang banyak beribadah kepada Allah Ta'ala)

Beliau adalah orang yang memiliki banyak ilmu sekaligus banyak beribadah. Semoga Allah Ta'ala merahmati beliau.

انتهى ، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين.

Sumber tulisan dari kitab berbahasa Arab المختصر المفيد في ترجمة الأئمة الأربعة الأعلام dengan beberapa penyesuaian yang diterjemahkan oleh Tim Imam Ahmad: Miftah Maulana, Razka Athari, dan Kalfani Abdelraheem (para santri Ma'had Tahfizh Al-Yusro yang tergabung dalam keanggotaan BPIP 2026/2027) dibawah bimbingan kepala BPIP, Al-Ustadz Anfal Yalda -Hafizhahullah-.

Penulis: Bidang Penelitian Ilmiah dan Perpustakaan (BPIP)

Nabi ﷺ Bersabda : "Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya". [HR. Muslim: 1893]

klik tombol di bawah untuk bagikan informasi ini,
‎جزاكم الله خيرا

kembali Khutbah Fiqih prestasi Kegiatan Santri Kerjasama Aqidah Materi Kuttab Karya Tulis BPIP