Imam Asy-Syafi'i merupakan salah satu dari empat Imam mazhab fiqih yang terkenal di kalangan umat Islam. Pada kesempatan ini, kami dari tim Imam Asy-Syafi'i akan memaparkan biografi beliau rahimahullah.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْد
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, junjungan kita Nabi Muhammad, beserta Keluarga dan semua Sahabatnya. Amma ba'du:
Muhammad bin Idris As Syafi’i Al Makkiy, Abu Abdillah Al-Qurosy , Bertemu nasabnya dengan Nabi ﷺ pada Abdul Manaf bin Qusoy
Beliau lahir pada tahun 150 hijriyyah di Gaza Palestina, dan ayahnya wafat ketika beliau masih kecil. Ia tumbuh sebagai seorang yatim dalam asuhan ibunya. Kemudian ibunya membawanya pergi ke Makkah, sedangkan ia masih berumur 2 tahun dan besar disana, dan tumbuh padanya kecintaan dalam ilmu fiqih.
Imam Syafi‘i menghafal Al-Qur’an ketika berusia tujuh tahun. Beliau menghafal kitab Al-Muwaththa’ ketika berusia sepuluh tahun. Beliau mulai memberikan fatwa ketika berusia lima belas tahun.
Beliau membagi waktu malam menjadi tiga bagian: sepertiga pertama digunakan untuk menulis, sepertiga kedua untuk salat, dan sepertiga ketiga untuk tidur.
Beliau memiliki hafalan yang sangat cepat dan daya ingat yang kuat. Beliau tidak mendengar sesuatu kecuali langsung menghafalnya. Gurunya, Imam Malik, sangat kagum kepadanya dan berkata kepadanya: "Wahai Muhammad, bertakwalah kepada Allah dan jauhilah kemaksiatan, karena kelak engkau akan memiliki kedudukan yang besar."
Dalam sebuah riwayat, Imam Malik juga berkata kepadanya: "Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah meletakkan cahaya di dalam hatimu, maka janganlah engkau memadamkannya dengan kemaksiatan."
Di antara guru-gurunya yang beliau belajar ilmu dari mereka: Imam Malik, Muhammad bin Hasan asy-Syaibani -murid Abu Hanifah-, Waki‘ bin al-Jarrah al-Kufi, dan guru-guru lainnya.
Imam Syafi’i adalah imam ketiga dari empat imam besar di kalangan Ahlussunah wal Jama’ah dan merupakan pelopor mazhab imam as Syafi’i dan juga pelopor ilmu ushul fiqih, dan dan para ulama telah banyak memuji beliau .
Imam Syafi'i memiliki pengaruh besar di kalangan umat Islam. Di antara murid-murid beliau adalah Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Isma'il bin Yahya al-Muzani, ar-Rabi' bin Sulaiman, dan yang lainnya. Banyak negeri Islam yang memiliki keterkaitan dengan mazhab beliau, seperti Mesir, Syam, Irak, dan lainnya Di antara kitab beliau yang penting adalah Ar-Risalah dan Al-Umm.
● Abdurrahman bin Mahdi berkata: Aku mendengar Imam Malik berkata: "Tidak ada seorang pemuda dari Quraisy yang datang kepadaku seperti pemuda ini" (yang dimaksud adalah Imam Asy Syafi’i)
● Abu Ubaid berkata: "Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih tulus dalam memberi nasihat, lebih berakal, dan lebih wara' daripada Imam Syafi'i."
● Imam Ahmad berkata: "Ilmu fikih pada masa itu masih sedikit, kemudian Imam Syafi'i datang dengan ilmu yang dimilikinya.’”Dan beliau menggambarkan Imam Syafi'i dengan perumpamaan “Imam Syafi'i bagi dunia seperti matahari, dan bagi tubuh seperti kesehatan.”
● Al-Sha'bi, salah seorang guru al-Muzani, berkata: ‘Ambillah ilmu fikih dari Abdullah bin Idris, yaitu Imam Syafi'i.’”
● Yunus bin Abdul A'la berkata: "Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih cerdas daripada Imam Syafi'i."
1. Menghormati dan memuliakan gurunya yaitu Imam Malik
“Diriwayatkan dari Imam Syafi'i: "Aku biasa membuka lembaran kitab di hadapan Imam Malik dengan sangat pelan agar tidak mengganggu beliau disebabkan suara kertas.”
2. Kesungguhan dan kerja kerasnya dalam menuntut ilmu
“Al-Baihaqi berkata: "Beliau sangat bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Hingga akhirnya beliau mendatangi Muhammad bin al-Hasan, lalu mempelajari hadis dan berbagai masalah ilmu darinya.”
3. Keikhlasannya kepada Allah Ta'ala
Di antara bukti keikhlasannya adalah perkataan beliau:
وددت أن الناس تعلموا هذا العلم ولا ينسب إلي شيء منه أبدًا؛ فأوجر عليه ولا يحمدوني.
"Aku berharap manusia mempelajari ilmu ini, tanpa harus menisbatkan kepadaku. Dengan begitu, aku mendapatkan pahala karenanya dan mereka tidak memujiku.”
4. Menerima perbedaan pendapat yang memiliki dasar di antara para ulama
“Yunus ash-Shadafi berkata tentang Imam Syafi'i:
"Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih berakal daripada Imam Syafi'i. Aku pernah berdiskusi dengannya suatu hari mengenai sebuah masalah. Setelah itu kami berpisah. Kemudian ketika bertemu kembali, beliau menjabat tanganku dan berkata: Wahai Abu Musa, tidakkah pantas bagi kita untuk tetap menjadi saudara meskipun kita tidak sepakat dalam satu masalah?”
5. Pengagungan beliau terhadap Al-Qur'an dan Sunnah
Imam Syafi'i berkata:
إذا صح الحديث فهو مذهبي
"Apabila sebuah hadis itu sahih, maka itulah mazhabku."
Beliau juga berkata:
إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ودعوا ما قلت.
"Apabila kalian menemukan dalam kitabku perkataan yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah ﷺ, maka ikutilah Sunnah tersebut dan tinggalkan perkataanku."
6. Imam Syafi'i dan Al-Qur'an
Abu Bakar An Naisaburi berkata:
“Aku mendengar Ar-Rabi' berkata: Imam Syafi'i mengkhatamkan Al-Qur'an setiap bulan sebanyak 30 kali.”
اذا كثرت الحوائج، فابدأ بأهمها.
“Jika kebutuhan banyak, maka mulailah dari yang paling penting”
إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء ويطير في الهواء ، فلا تغتروا به حتى تعرضوا أمره على الكتاب والسنة.
"Jika kamu melihat orang yang mampu berjalan di atas air atau terbang di udara, maka jangan tertipu dengannya sampai kamu pastikan apakah sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah atau tidak?!”
ليس العلم ما حفظ ، إنما العلم ما نفع
“Ilmu bukanlah sekadar sesuatu yang dihafal, tetapi ilmu adalah sesuatu yang memberikan manfaat.”
ما شبعت منذ ست عشرة سنة؛ لأن الشبع يثقل البدن, ويقسي القلب, ويزيل الفطنة, ويجلب النوم, ويضعف صاحبه عن العبادة
“Aku tidak pernah kenyang selama enam belas tahun, kecuali satu kali, karena kenyang dapat membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat tidur dan melemahkan seseorang dari beribadah.”
ليس إلى السلامة من الناس سبيل، فانظر الذي فيه صلاحُك فالْزمْه.
"Tidak ada cara untuk bisa selamat dari celaan dan gangguan manusia. Maka, perhatikanlah amalan yang baik bagimu, lalu fokuslah dengan itu."
Beliau bersyair:
العلم صيد و الكتابة قيده
قيد صيودك بالحبال الواثقه
فمن الحماقة أن تصيد غزالة
وتتركها بين الخلائق طالقة
"Ilmu itu seperti hasil buruan, sedangkan tulisan adalah pengikatnya. Ikatlah hasil buruanmu dengan tali yang kuat. Sungguh bodoh jika seseorang berhasil menangkap seekor kijang, tetapi kemudian membiarkannya lepas."
تَعَمَّدني بِنُصحِكَ في اِنفِرادي
وَجَنِّبني النَصيحَةَ في الجَماعَه
فَإِنَّ النُصحَ بَينَ الناسِ نَوعٌ
مِنَ التَوبيخِ لا أَرضى اِستِماعَه
"Silakan nasehati aku saat aku sendiri, jauhkan aku dari nasehat di depan khalayak ramai. Karena nasehat di tengah manusia itu bentuk mempermalukan dan aku tidak rela untuk mendengarkannya."
إِذا ما خَلَوتَ الدَهرَ يَوماً فَلا تَقُل
خَلَوتُ وَلَكِن قُل عَلَيَّ رَقيبُ
"Jika suatu hari kamu sedang sendirian, janganlah berkata, ‘Aku sedang sendirian.’ Tetapi katakanlah, ‘Ada (Allah) yang selalu mengawasiku"
Imam Syafi'i rahimahullah wafat di Mesir pada tahun 204 hijriah pada umur 54 tahun.
1. Peran besar orang tua dalam mendidik anak dengan pendidikan yang baik. Imam Syafi'i tumbuh sebagai seorang yatim, dan ibunya sangat memperhatikannya sejak kecil. Hingga akhirnya beliau menjadi sosok yang luar biasa pada zamannya.
2. Kita dapat belajar darinya tentang pentingnya memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu. Imam Syafi'i telah menghafal Al-Qur'an ketika berusia 7 tahun, kemudian menghafal kitab Al-Muwaththa' ketika berusia 10 tahun. Al-Muwaththa' merupakan salah satu kitab hadits yang sangat terkenal dan penting. Dan pada usia 15 tahun, beliau sudah mencapai tingkat keilmuan yang sangat tinggi.
3. Dalam nasihat gurunya, Imam Malik, beliau berkata: “Sesungguhnya Allah Ta'ala telah memberikan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkannya dengan kemaksiatan.” Dari sini kita belajar pentingnya meninggalkan maksiat dan dosa bagi seorang penuntut ilmu, karena maksiat dapat memengaruhi proses belajarnya, hafalannya, dan pemahamannya. Cahaya ilmu tidak akan bersatu dengan kegelapan maksiat.
4. Seorang penuntut ilmu sebaiknya memiliki guru atau ustadz yang darinya ia belajar ilmu dan adab.
5. Ini menunjukkan keutamaan dan kedudukan Imam Syafi'i yang sangat besar dalam umat Islam. Beliau masih “hidup” di tengah-tengah kita sampai sekarang melalui ilmu dan karya-karyanya. Semoga Allah merahmatinya.
6. Seorang penuntut ilmu hendaknya menghormati dan menghargai gurunya serta menjaga adab ketika berada di hadapannya. Imam Syafi'i dahulu ketika membalik halaman kitab di hadapan Imam Malik, beliau melakukannya dengan sangat pelan, agar suara membalik halaman tersebut tidak mengganggu gurunya.
7. Kita belajar dari beliau tentang kesungguhan, kerja keras, dan kesabaran dalam menuntut ilmu. Beliau pernah menulis hadits atau suatu masalah ilmu di atas tulang, kemudian menyimpannya dan menghafalnya di sebuah wadah/tempayan lama.
8. Kita belajar dari beliau tentang kejujuran dan keikhlasan dalam menuntut ilmu. Beliau berkata bahwa beliau berharap orang-orang mempelajari ilmu tersebut, tetapi ilmu itu tidak dinisbatkan kepadanya sama sekali. Dengan begitu, beliau mendapatkan pahala dari Allah dan tidak mengharapkan orang-orang memujinya.
9. Perbedaan pendapat dalam masalah fiqih tidak seharusnya merusak persaudaraan dan kasih sayang. Imam Syafi'i pernah memegang tangan orang yang berdiskusi dengannya, lalu berkata: “Bukankah kita tetap bisa menjadi saudara, meskipun kita tidak sepakat dalam satu masalah?”
10. Kita belajar dari beliau untuk mengagungkan Sunnah Rasulullah ﷺ, mengamalkannya, dan tidak menyelisihinya. Beliau berkata: “Apabila sebuah hadis telah terbukti sahih, maka tinggalkanlah pendapatku.”
11. Dahulu Imam Syafi'i biasa melaksanakan salat malam (qiyamullail) dan memperbanyak membaca Al-Qur'an. Beliau adalah teladan dalam ilmu, amal, kesungguhan, serta ijtihad.
12. Kita mengambil pelajaran dari perkataannya: “Jika kebutuhan sedang banyak, maka mulailah dari yang paling penting,” bahwasanya manusia, ketika urusannya saling menumpuk, hendaknya memulai dari yang paling penting.
13. Kita mempelajari dari perkataannya: “Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air dan terbang di udara, maka janganlah kalian terperdaya olehnya sampai kalian mencocokkan perkaranya dengan Al-Kitab (Al-Qur'an) dan As-Sunnah,” bahwasanya manusia sepatutnya mencocokkan perkataan dan perbuatan orang-orang dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Apa yang sesuai dengannya diterima, dan apa yang menyelisihinya ditolak.
14. Dan pada perkataannya: “Ilmu itu bukanlah apa yang dihafal, melainkan ilmu itu adalah apa yang bermanfaat,” maksudnya adalah bahwa hakikat ilmu adalah sesuatu yang memberi manfaat kepada pemiliknya dengan cara diamalkan dan diresapi, bukan hanya sekadar dihafal saja.
15. Berhati-hati dari kenyang dan makan melebihi kebutuhan. Sesungguhnya kenyang itu memberatkan badan, mengeras hati, menghilangkan kecerdasan, memicu rasa kantuk, dan melemahkan dari beribadah. Dalam hadits Nabi ﷺ:
مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أَكَلاَتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
“Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika nafsu manusia mengalahkannya, maka sepertiga untuk makannnya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. Ibn Majah)
16. Hendaknya bagi penuntut ilmu mencatat apa yang ia pelajari agar dapat diulangi kembali. Sungguh, Imam Syafi'i telah mengumpamakan ilmu seperti buruan dan tulisan adalah pengikatnya. Jika kamu tidak mengikatnya, ilmu itu akan hilang.
17. Di antara adab memberikan nasihat adalah jika kamu hendak menasihati seseorang, maka panggillah dia secara empat mata (tersendiri) antara dirimu dan dirinya.
18. Dan perkataannya: “Tidak ada jalan untuk selamat dari (lisan) manusia, maka hendaknya kamu berpegang pada apa yang membawamu pada kebaikan, lalu pegang teguhlah,” maksudnya adalah bahwa manusia, bagaimanapun keadaannya, tidak akan pernah selamat dari lisan manusia. Maka pegang teguhlah apa yang bermanfaat bagimu dan dirindai Allah Azza wa Jalla.
19. Dari perkataan beliau (rohimahullah): "Jika suatu hari kamu sedang menyendiri, janganlah katakan: “Aku sedang menyendiri,” tetapi katakanlah: “Ada (Allah) yang Maha Mengawasi diriku.” Artinya jangan sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai walau sesaat, atau mengira bahwa apa yang kamu sembunyikan akan luput dari-Nya. Dan dari nasihat ini bahwasannya allah melihatmu Dimana pun kamu berada maka dengan itu tidaklah seorang hamba lalai dalam suatu hal.
انتهى، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
Sumber tulisan dari kitab berbahasa Arab المختصر المفيد في ترجمة الأئمة الأربعة الأعلام dengan beberapa penyesuaian yang diterjemahkan oleh Tim Imam Asy Syafi'i: Keandra Ardana, Razan Kahfi, dan Zidan Rakhazlan (para santri Ma'had Tahfizh Al-Yusro yang tergabung dalam keanggotaan BPIP 2026/2027) dibawah bimbingan kepala BPIP, Al-Ustadz Anfal Yalda -Hafizhahullah-.
Nabi ﷺ Bersabda : "Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya". [HR. Muslim: 1893]
klik tombol di bawah untuk bagikan informasi ini,
جزاكم الله خيرا