Logo WhatsApp Ma'had Al Yusro Logo Instagram Ma'had Al Yusro Logo YouTube Ma'had Al Yusro Logo Facebook Ma'had Al Yusro
Temukan Informasi Yang Anda Cari

Biografi Imam Malik

kembali Khutbah Fiqih prestasi Kegiatan Santri Kerjasama Aqidah Materi Kuttab Karya Tulis BPIP
Biografi Imam Malik
Description of Biografi Imam Malik
64 Views
2026-08-31 10:07:07

Sudah semestinya bagi kaum muslimin untuk mengenali para ulama mereka terdahulu yang mereka telah berperan penting dalam menegakkan agama Islam yang mulia ini. Dan dalam kesempatan kali ini, kami akan mengisahkan salah seorang ulama yang punya andil besar dalam Islam, seorang ulama yang gigih menegakkan kalimat tauhid dan menerangkan hukum syariat serta menjauhkan umat dari kesyirikan, kebid'ahan, dan penyimpangan syariat lainnya, seorang ulama yang lahir dan besar di kota Al-Madinah An-Nabawiyyah, beliau ialah Imam Malik.

Nama dan Nasab Beliau

Beliau ialah Abu Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir Al-Ashbahi, Al-Madani.

Kelahiran dan Pertumbuhan Beliau

Beliau lahir di kota Madinah pada tahun 93 Hijriyah. Beliau tumbuh di sebuah rumah yang disibukkan dengan ilmu Atsar (riwayat-riwayat hadits Nabi ﷺ dan perkataan Sahabat), di lingkungan yang sebagian besar waktu dihabiskan untuk mengkaji hadits Nabi ﷺ. Kakeknya ialah Malik bin Abi Amir merupakan salah seorang dari ulama tabi'in, dan buyutnya Abu Amir merupakan seorang sahabat Nabi ﷺ.

Imam Malik tumbuh di kota Madinah dalam keadaan aman, damai, sejahtera, cinta ilmu, dan gigih dalam menuntut ilmu serta mendalami riwayat hadits.

Imam Malik dalam Menuntut Ilmu

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengkaruniai Imam Malik dengan orang tuanya yang terbaik, dan dari sebab mereka berdualah Imam Malik menuntut ilmu sejak dini, dan ibunya yang shalihah lagi bijak memberinya wewangian dan memakaikannya pakaian ahli ilmu, dan mengantarkannya untuk belajar. Ibunya pernah berkata kepadanya: "Nak, pergilah belajar kepada Rabi'ah dan belajarlah darinya adab sebelum engkau mempelajari darinya ilmu".

Imam Malik berguru kepada lebih dari 900 masyayikh, diantaranya: Nafi' maula bin Umar, Rabi'ah bin Abdur-rahman, Muhammad bin Syihab Az-Zuhriy. Imam Malik telah memenuhi syarat dan kelayakan untuk mengeluarkan fatwa dan duduk dalam majlisnya untuk menyampaikan ilmu pada umurnya yang ke-21.

Kedudukan Beliau di Bidang Ilmu

Imam Malik adalah ahli fiqih dan ahli hadits, julukan beliau ialah Imam Darul Hijrah (Imamnya Kota Al-Madinah An-Nabawiyyah), beliau juga salah satu dari imam 4 mazhab Al-Fiqhiyyah Al-Muttaba'ah (mazhab maliki), dan beliau juga salah seorang Tabi' Tabi'in.

Jasa-jasa Beliau di Bidang Ilmu

Imam Malik mempunyai jasa-jasa di bidang ilmu yang sangat besar untuk seluruh umat islam, dan beliau mempunyai murid-murid yang sangat banyak, diantara mereka: Ibnul Qasim, Asyhab, Yahya bin Yahya Al-Laitsi, dan Abdurrahman bin Mahdi. Beliau juga mempunyai karya tulis dalam bidang hadist, yaitu kitab Al-Muwattha'. Selain itu mazhab fiqih beliau tersebar dan dianut di berbagai tempat, salah satunya yang terbanyak ialah di Maghrib (Maroko).

Pujian Ulama kepada Beliau

  • Imam Abu Hanifah berkata tentang imam Malik: "Demi Allah, aku tidak pernah melihat orang secepat beliau dalam mengeluarkan jawaban yang jujur dan dalam zuhudnya yang sempurna."
  • Berkata juga Imam Asy-Syafi'i: "Jika datang kepadamu hadist dari Malik, maka berpeganglah padanya erat-erat". dan juga: "Jikalau datang suatu riwayat, maka Malik lah bintangnya". dan katanya: "Jika disebutkan berbagai ulama, Malik lah bintangnya", dan belum ada satu pun yang mencapai keilmuannya sebanding dengan apa yang telah dicapai oleh Imam Malik; dikarenakan hafalannya, dan kemutqinannya, dan penjagaannya, dikatakan tentangnya: "Siapa yang menginginkan hadist shahih, hendaklah ia merujuk kepada Malik", dan berkata juga Imam Asy-Syafi'i: "Malik bin Anas adalah guruku", dan di riwayat lain: "Ustadzku", "Dan tidak seorang pun yang dapat dipercaya bagiku selain Malik", "Dan darinya kami menuntut ilmu", "Dan sesungguhnya aku seorang anak dari anak-anak Malik", dan juga: "Aku telah menjadikan Malik sebagai hujjah diantaraku dan Allah".
  • Berkata pula Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahullah-: "Malik adalah salah seorang imam besar di kalangan ulama, dan dialah imam dalam bidang hadist dan fiqih, dan siapakah yang menyerupai Malik dalam menelusuri jejak orang-orang terdahulu? beliau seorang yang berakal dan beradab"
  • Berkata pula Ibnu Mahdi -rahimahullah-: "Malik seorang yang lebih ahli dalam ilmu faqih dibanding al-Hakam dan Hammad. saya tidak pernah melihat siapapun yang lebih berakal (berilmu) dari Malik bin Anas".
  • Berkata pula Imam Bukhari: "Diantara sanad-sanad yang paling benar ialah sanad Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar".
  • Berkata pula Imam Sufyan bin 'Uyainah: "Kami tidak ada apa-apanya di hadapan Malik, sesungguhnya kami hanya mengikuti jejak-jejak Malik, sesungguhnya Malik seorang imam kaum muslimin".
  • Dan Imam Al-Auza'i telah menyebutkan tentangnya, dikatakan tentang beliau: "apa pendapatmu tentang Malik? ia menjawab: Menurutku beliau adalah seorang yang alim".
  • Berkata pula Imam Ibnu Al-Mubarak: "Jikalau saja aku diperintahkan untuk memilih imam untuk suatu umat, maka Malik lah yang akan kupilih".
  • Dan pujian imam-imam kepada beliau lebih banyak daripada pujian yang telah dikhususkan ulama-ulama diatas untuknya -rohimahullah-

Sikap-sikap Beliau selama Hidup

  • Pengagungan Imam Malik terhadap hadits Nabi  ﷺ dan sunnah-sunnahnya. Berkata Abu Mus'ab: "Malik tidak pernah berbicara tentang hadist kecuali dalam keadaan suci; sebagai penghormatannya terhadap hadits". Imam Malik berkata:"Setiap orang bisa diambil perkataannya dan bisa ditinggal kecuali perkataan si pemilik makam ini (Nabi ﷺ)". Dan dari Maa'n bin Isa beliau berkata: Imam Malik bin Anas ketika ingin menyampaikan suatu hadits, beliau akan mandi dan memakai bukhur dan memakai wewangian, dan jika ada orang yang mengangkat suara (berisik) di majlisnya, maka beliau akan mengusir orang tersebut, sambil beliau berkata: "Allah ta'ala berfirman: 

{يآأيها الذين ءامنوا لا ترفعوآ أصواتكم فوق صوت النبيّ}

maka siapa yang mengangkat suara di hadapan hadits Rasulullah ﷺ seakan akan dia mengangkat suara di atas suara Rasulullah ﷺ". Imam Malik berkata: "Sesungguhnya aku adalah manusia yang dapat berbuat salah dan benar, maka periksalah oleh kalian apa yang kukatakan, setiap perkataanku yang sejalan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka ambillah (perkataanku), dan perkataanku yang tidak sejalan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah (perkataanku)".

  • Pemahaman Imam Malik dan jawabannya yang bagus. Al-Hafizh Ibn 'Abd al-Barr menyebutkan dalam Al-Tamhid bahwa Abdullah al-Umari, seorang ahli ibadah, berkirim surat kepada Imam Malik untuk mendorongnya agar menyendiri dan fokus beribadah secara individual. Maka Imam Malik membalas suratnya: "Sesungguhnya Allah membagi amalan sebagaimana Dia membagi rezeki. Ada orang yang dibukakan pintunya dalam salat (sunnah), tetapi tidak dibukakan (pintu keutamaan) dalam berpuasa. Ada yang dibukakan pintunya dalam sedekah, tetapi tidak dibukakan dalam berpuasa. Ada pula yang dibukakan pintunya dalam jihad. Sedangkan menyebarkan ilmu termasuk amalan kebaikan yang paling utama. Aku sungguh ridha dengan pintu (ilmu) yang telah dibukakan untukku, dan aku tidak menganggap bahwa apa yang sedang kujalani ini lebih rendah daripada apa yang sedang engkau jalani. Aku berharap kita berdua berada dalam kebaikan dan kebajikan."
  • Cara berpakaian imam Malik. Qutaibah berkata:  "Dahulu, apabila kami menemui Imam Malik, beliau keluar menemui kami dalam keadaan sudah berhias rapi, memakai celak mata, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian terbaiknya. Lalu beliau meminta dibawakan kipas-kipas, dan membagikan satu kipas kepada setiap orang dari kami." Dan berkata Isa bin Umar: "Aku tidak pernah melihat gamis yang lebih putih dari gamis milik Malik"
  • Imam Malik tidak malu mengatakan "Saya tidak tahu". Imam Malik pernah ditanya tentang 48 perkara, dan dia menjawab di 32 perkara diantaranya dengan: 'Saya tidak tahu'. dan dia berkata: "Hendaknya sebagai seorang alim mewariskan pada murid-muridnya dengan perkataan "Saya tidak tahu" sehingga ucapan itu menjadi dasar yang selalu mereka kembali kepadanya". Dan berkata ibnu Wahab (dan dia salah seorang sahabat-sahabat beliau): "Seandainya aku mau memenuhi papan-papan catatanku hanya dengan ucapan Malik: 'Aku tidak tahu', niscaya aku bisa melakukannya." 
  • Cobaan Imam Malik dan kesabarannya atas perkataan kebenaran. Beliau pernah dipukul dengan cambuk dan dibentangkan tangannya dari pundaknya dikarenakan beliau mengeluarkan suatu fatwa pada masalah khilafiyyah yang bertolak belakang dengan apa yang diinginkan Pemerintah di Madinah ketika itu, dan pada akhirnya Khalifah Al-Abbasiyyah Al Manshur meminta maaf pada beliau atas apa yang telah Pemerintah Madinah perbuat, dan Imam Malik memaafkannya. Semoga Allah merahmati Imam Malik; beliau menahan amarahnya, menampakkan kesabarannya, dan memberikan pemaafan.
  • Pengorbanan Imam Malik demi menuntut ilmu. Ibnul Qasim berkata: "Menuntut ilmu telah membuat Malik sampai membongkar atap rumahnya lalu menjual kayunya (untuk biaya belajar). Namun setelah itu, dunia berbalik melimpah kepadanya." 
  • Penolakan Imam Malik terhadap bid'ah dan perkara baru dalam agama. Imam As-Syatibi menyebutkan dalam kitabnya Al-I'tisham dari Ibn al-Majisyun, ia berkata: Saya mendengar Malik berkata: "Siapa yang membuat perbuatan bid'ah dalam Islam yang ia anggap baik (hasanah), maka sungguh ia telah menganggap bahwa Nabi Muhammad telah mengkhianati risalah (wahyu). Karena Allah Ta'ala berfirman:

 {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ }

maka apa saja yang pada hari itu (zaman Nabi) bukan merupakan bagian dari agama, maka pada hari ini pun itu bukan bagian dari agama."

Kematian Beliau

Ketika ajal beliau telah dekat, beliau membaca syahadat

أشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ .

beliau wafat di kota Madinah tahun 179 Hijriyah pada umur 85, dan dikuburkan di perkuburan Baqi' -rohimahullah-.

Pesan Moral dari Biografi Beliau

  1. Pentingnya belajar menuntut ilmu agama sejak kecil serta peran besar orang tua dalam mendukung proses tersebut. 
  2. Seorang penuntut ilmu wajib memiliki syaikh (guru) untuk mempelajari adab dan ilmu langsung darinya, sebagaimana yang dilakukan Imam Malik dan menjadi tradisi para ulama. 
  3. Keutamaan ilmu bagi murid dan pengajarnya; Imam Malik seolah tetap "hidup" melalui ilmu yang diajarkannya, sesuai hadis Nabi SAW: "Jika manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya" (HR. Muslim). 
  4. Umat Islam telah sepakat dalam memberikan pujian dan penghormatan kepada Imam Malik rohimahullah
  5. Belajar untuk selalu mengagungkan Rasulullah serta memuliakan sunnah beliau. 
  6. Memahami fiqih Imam Malik bahwa manusia itu bermacam-macam dan Allah membagi amalan seperti membagi rezeki; ada yang dimudahkan dalam salat, puasa, sedekah, atau jihad, dan semuanya berada dalam kebaikan. 
  7. Mengenakan pakaian yang indah dan wewangian tidak bertentangan dengan keilmuan maupun sifat zuhud terhadap dunia. 
  8. Hendaknya seseorang tidak malu mengucapkan "Aku tidak tahu" atau "Aku tidak paham" dan tidak berbicara tanpa ilmu. Imam Malik yang dalam ilmunya pun sangat sering mengucapkan hal ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta'ala: "...dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui" (QS. Al-A'raf: 33). 
  9. Belajar bersabar dalam menyuarakan kebenaran dan menanggung resikonya. Imam Malik pernah dicambuk hingga engsel bahunya bergeser karena memberi fatwa yang berbeda dengan keinginan penguasa. 
  10. Belajar kesungguhan dan pengorbanan dalam menuntut ilmu, sebagaimana Imam Malik yang pernah membongkar kayu atap rumahnya untuk dijual demi biaya belajar. 
  11. Kita belajar darinya ketegasan dalam menolak bid'ah atau sesuatu yang diada-adakan dalam agama, sesungguhnya agama Allah sudah lengkap dan tidak perlu sesuatu yang dibuat buat. Bid'ah adalah: hal baru yang dibuat buat oleh manusia dalam perkara agama, dan sesuatu itu tidak pernah ada di zaman nabi ﷺ dan para Sahabat. Nabi ﷺ bersabda: "Setiap bid'ah (dalam perkara agama) adalah kesesatan" (HR.Abu Daud).
Sumber tulisan dari kitab berbahasa Arab المختصر المفيد في ترجمة الأئمة الأربعة الأعلام dengan beberapa penyesuaian yang diterjemahkan oleh Tim Imam Malik: Yazid, Oryza Sativa, dan Don Enriko (para santri Ma'had Tahfizh Al-Yusro yang tergabung dalam keanggotaan BPIP) dibawah bimbingan kepala BPIP, Al-Ustadz Anfal Yalda -Hafizhahullah-.
Penulis: Bidang Penelitian Ilmiah dan Perpustakaan (BPIP)

Nabi ﷺ Bersabda : "Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya". [HR. Muslim: 1893]

klik tombol di bawah untuk bagikan informasi ini,
‎جزاكم الله خيرا

kembali Khutbah Fiqih prestasi Kegiatan Santri Kerjasama Aqidah Materi Kuttab Karya Tulis BPIP