“Ikatlah ilmu dengan menulis”—sebuah nasihat yang pada masanya merujuk pada pena, tinta, dan lembaran. Namun hakikatnya bukan terletak pada medianya, melainkan pada upaya menjaga ilmu agar tidak hilang ditelan waktu.
Di era sekarang, makna itu meluas. Menulis tidak lagi terbatas pada teks, tetapi juga mencakup video, rekaman suara, dan berbagai bentuk dokumentasi digital. Ketika seseorang merekam penjelasan, membuat video pembelajaran, atau menyusun konten edukatif, sejatinya ia sedang “mengikat ilmu” dengan cara yang relevan dengan zamannya.
Jika dahulu tulisan menjaga ilmu dari lupa, kini teknologi menjaga ilmu dari lenyap. Suara dapat diputar ulang, video dapat ditonton lintas generasi, dan gagasan dapat menjangkau lebih banyak manusia tanpa batas ruang.
Namun ada sisi lain yang sering diabaikan: ilmu yang tidak dibagikan akan membusuk. Ia mungkin tersimpan rapi dalam pikiran seseorang, tetapi tanpa disampaikan, ia tidak memberi manfaat, tidak menghidupkan siapa pun, bahkan perlahan hilang bersama waktu. Seorang berilmu yang enggan menulis, enggan merekam, atau enggan berbagi, pada hakikatnya sedang membiarkan ilmunya terkurung—dan akhirnya lenyap tanpa jejak.
Sebaliknya, ilmu yang didokumentasikan akan terus hidup dan memberi manfaat. Bahkan, dalam perspektif Islam, hal ini sejalan dengan konsep ilmu yang bermanfaat—yang pahalanya terus mengalir meskipun pemiliknya telah tiada.
Maka, siapa pun yang hari ini menulis, merekam, atau membagikan ilmu dengan niat yang benar, sejatinya sedang membangun jejak yang melampaui usia. Bukan sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menyelamatkan ilmu dari “kematian”, dan mengubahnya menjadi warisan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Nabi ﷺ Bersabda : "Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya". [HR. Muslim: 1893]
klik tombol di bawah untuk bagikan informasi ini,
جزاكم الله خيرا