Logo WhatsApp Ma'had Al Yusro Logo Instagram Ma'had Al Yusro Logo YouTube Ma'had Al Yusro Logo Facebook Ma'had Al Yusro
Temukan Informasi Yang Anda Cari

Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

kembali Khutbah Fiqih prestasi Kegiatan Santri Kerjasama Aqidah Materi Kuttab Karya Tulis BPIP
Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
Description of Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
136 Views
2026-02-16 10:17:58

Telah berlalu sebagian besar hari-hari Ramadhan dan tinggal tersisa beberapa hari terakhir yaitu sepuluh hari terakhir dari bulan yang mulia ini. Maka sudah sepatutnya kita kaum muslimin lebih bersemangat dan lebih maksimal memanfatkan momen ini dengan memperbanyak ibadah dan amalan-amalan kebaikan.

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده, أما بعد:

Pembaca yang budiman, risalah ini berusaha menjelaskan terkait keutamaan sepuluh hari terakhir Ramadhan dan apa yang dianjurkan untuk diamalkan pada bulan ini serta bagaimana amalan Nabi Muhammad ﷺ  tatkala di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Begitu juga dalam risalah ini terdapat sebuah penjelasan tentang Lailatul Qadr dan keistimewaan amalan pada malam tersebut beserta penjelasan sebab-sebab diampuninya dosa-dosa di bulan Ramadhan.

Amalan Nabi Muhammad ﷺ pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

 عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ. وَفِي رِوايةٍ: أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ، وَشَدَّ المِئْزَرَ

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Rasulullah ﷺ apabila memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), beliau mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh dalam beribadah), menghidupkan malamnya (dengan ibadah), dan membangunkan keluarganya."
Dan dalam riwayat lain: "Beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan ikat pinggangnya." 
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits diatas terdapat amalan-amalan yang diamalkan oleh Nabi ﷺ pada sepuluh terakhir Ramadhan, diantaranya:

1. Menghidupkan Malam Ramadhan 

Kemungkinan kuat yang dimaksud adalah menghidupkan malam secara keseluruhan (sepanjang malam).

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها، قَالَتْ” : كان النبي ﷺ له يخلط العشرين بصلاة ونوم، فإذا كان العشر ـ يعني الأخير - شمر وشد المتزر.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Dahulu Nabi ﷺmenggabungkan antara shalat dan tidur pada dua puluh hari pertama (bulan Ramadhan). Namun, apabila telah masuk sepuluh hari terakhir, beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikat pinggangnya."  (Diriwayatkan oleh Ahmad)

Dan ada kemungkinan lain bahwa yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam pada hadits diatas ialah menghidupkan sebagian besar malamnya. Hal ini sebagaimana yang diterangkan dalam hadist lain dari Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

 ما أعلمه ﷺ قام ليلة حتى الصباح

“Aku tidak mengetahui beliau (Nabi  ﷺ) beribadah sepanjang malam (tanpa henti) sampai pagi hari”. (Diriwayatkan oleh Muslim)

2. Membangunkan Keluarga 

Dahulu Nabi ﷺ tatkala memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan selalu membangunkan keluarganya untuk qiyamullail dan hal ini tidak selalu beliau lakukan di malam-malam lainnya. Sufyan Ats-Tsauri berkata: "Aku lebih menyukai jika telah memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan agar seseorang fokus melakukan sholat tahajud pada malam harinya dan lebih giat di dalamnya serta membangunkan keluarga beserta anaknya untuk shalat jika mereka mampu mengerjakannya". 

Dan diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ  mendatangi dan mengetuk pintu rumah Fatimah dan Ali  malam hari radhiyallahu 'anhuma, lalu beliau ﷺ mengatakan kepada keduanya: "Tidakkah kalian berdua bangun lalu mendirikan shalat?" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Begitu juga Nabi ﷺ biasa membangunkan Aisyah radhiyallahu 'anha pada malam harinya apabila beliau sudah menyelesaikan tahajudnya dan ingin melakukan witir. Dan telah datang juga anjuran agar salah seorang dari pasangan suami istri untuk membangunkan pasangannya untuk shalat malam dengan memercikan air ke wajahnya. 

Di dalam kitab Al-Muwattho' disebutkan bahwa Umar bin Al-Khottob radhiyallahu 'anhu mengerjakan sholat malam dan apabila tiba waktu penghujung malam, beliau membangunkan keluarganya untuk shalat malam. Beliau berkata kepada mereka: : "shalat..shalat.." sambil beliau membaca firman Allah Ta’ala: 

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya”  (QS Thoha: 132)

Dikisahkan bahwa berkata istri dari Abu Muhammad Habib Al-Farisi (salah seorang Tabi' Tabi'in) kepadanya pada suatu malam: "Malam telah berlalu dan dihadapan kita terbentang jalan yang jauh dan bekal kita masih sedikit dan para kafilah orang-orang Sholeh telah mendahului kita sedangkan kita masih tertinggal"

3. Mengencangkan Ikat Sarung

Para ulama berbeda pendapat di dalam memahami maksudnya. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud ialah kiasan dari besarnya kesungguhan beliau ﷺ dalam beribadah, namun pendapat ini perlu ditinjau kembali. Adapun pendapat yang kuat bahwasanya yang dimaksud ialah Nabi ﷺ menjauhi para istrinya (tidak berhubungan badan) dan pendapat inilah yang dipegang oleh para salaf dan para imam terdahulu diantara mereka Sufyan Ats-Tsauri. Terkait ini terdapat penjelasan bahwa beliau ﷺ tidak mendatangi tempat tidurnya hingga Ramadhan berlalu. Hal ini sebagaimana di dalam hadist Anas radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ meninggalkan tempat tidurnya, dan menjauhi para istrinya.

Sebagian para ulama salaf menafsirkan firman Allah Ta’ala: 

فَٱلۡـَٔـٰنَ بَـٰشِرُوهُنَّ وَٱبۡتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَكُلُوا۟ وَٱشۡرَبُوا۟ حَتَّىٰ یَتَبَیَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَیۡطُ ٱلۡأَبۡیَضُ مِنَ ٱلۡخَیۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ

"Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar." (QS. Al-Baqarah: 187)

bahwa yang dimaksud dari ayat ini adalah mencari Lailatul Qadr dan yang dimaksud dari ayat tersebut juga ialah bahwasanya Ketika Allah ﷻ membolehkan berhubungan suami istri pada malam-malam Ramadhan, Allah ﷻ juga memerintahkan untuk mencari Lailatul Qadr bersamaan dengan hal itu agar umat islam tidak hanya menyibukkan diri pada sepanjang malam-malam Ramadhan dengan kesenangan yang diperbolehkan seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri. Dikarenakan itu dapat membuat mereka kehilangan kesempatan untuk mencari Lailatul Qadr. Oleh karena itu, walaupun hal-hal itu dibolehkan, namun Allah ﷻ tetap memerintahkan untuk mencari Lailatul Qadr dengan mengerjakan qiyamullail, khususnya pada malam-malam yang diharapkan adanya Lailatul Qadr. Itulah sebabnya, dahulu Nabi ﷺ masih mendatangi istri-istrinya pada dua puluh hari pertama Ramadhan, kemudian beliau meninggalkan para istrinya dan fokus untuk mencari Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

4. Mandi diantara Maghrib dan Isya

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dari hadits Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa beliau ﷺ mandi di antara dua azan, yaitu yang dimaksud ialah antara azan Magrib dan azan Isya. Ibnu Jarir berkata: 'Mereka para salaf menyukai untuk mandi pada setiap malam dari sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dan dahulu An-Nakha'i mandi pada setiap malam di sepuluh malam terakhir. Diantara mereka ada pula yang mandi dan memakai wewangian pada malam-malam yang lebih diharapkan (peluangnya) sebagai Lailatul Qadar. Dahulu Ayyub as-Sikhtiyani mandi pada malam ke-23 dan ke-24, serta mengenakan dua pakaian yang baru, serta memakai wewangian (dupa/gaharu). Beliau berkata: "Malam ke-23 adalah malamnya penduduk Madinah, sedangkan malam berikutnya (malam ke-24) adalah malam kami, yaitu maksudnya penduduk Bashrah."

Maka jelaslah bahwa hal-hal demikian dianjurkan pada malam-malam yang diharapkan padanya Lailatul Qadr, yaitu disunnahkan untuk membersihkan diri dengan mandi, berhias, memakai parfum, dan memakai pakaian bagus sebagaimana yang disyariatkan pada hari Jumat dan hari Ied. Maka berhiaslah dengan baik pada sepuluh terakhir Ramadhan, namun tidaklah cukup hanya menghiasi diri secara dzahir (seperti: memakai parfum, pakaian bagus, dll), tetapi juga menghiasi diri secara batin (seperti: bertaubat dan kembali kepada Allah ﷻ,serta mensucikan diri dari dosa). Karena sesungguhnya, keindahan dzahir dengan kekosongan batin tidaklah berguna sama sekali.

5. Beri'tikaf (Menetap) di Masjid 

Diriwayatkan dalam kitab Shahihain dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwasanya Nabi ﷺ dahulu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sampai wafatnya Nabi ﷺ. Dan diriwayatkan juga dari Abu Huroiroh radhiyallahu 'anhu berkata: 

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا.

"Dahulu Nabi ﷺ sering beri'tikaf pada setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun saat beliau ﷺ wafat, beliau ﷺ beri'tikaf selama dua puluh hari." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Oleh karena itu Nabi ﷺ beriktikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan yang di dalamnya tedapat Lailatul Qadr, bertujuan untuk memutuskan diri dari segala kesibukan duniawi dan memfokuskan diri untuk beribadah, serta menyendiri untuk bermunajat kepada Allah ﷻ, berzikir, dan berdoa kepada-Nya. Maka hakikat orang yang ber i’tikaf ialah yang bersungguh sungguh menahan diri semata mata untuk ketaatan kepada Allah dan berzikir kepada-Nya, dan memutuskan dirinya dari segala urusan yang menyibukan dirinya dan memalingkan dari ketaatan kepada Allah ﷻ. Ia menghadapkan hati dan raga sepenuhnya kepada Rabbnya dan segala hal yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya, sehingga tidak ada lagi kegundahan (fokus utama) yang tersisa baginya selain Allah dan apa yang mendatangkan ridha-Nya. Setiap kali bertambah makrifat seseorang kepada Allah, bertambah kuat kecintaan dan rasa tenang bersama-Nya, maka hal itu akan membuat seseorang merasa perlu untuk memfokuskan diri sepenuhnya kepada Allah Ta'ala dalam setiap keadaan.

Apa itu Malam Lailatul Qadr?

Allah ﷻ berfirman di dalam Al-Qur’an: 

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ، لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ 

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. Al-Qadr: 1-3)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ bahwa beliau berkata mengenai bulan Ramadhan: 

فيه ليلة خير من ألف شهر ، من حرم خيرها فقد حرم

"Di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh ia telah terhalang (dari kebaikan yang besar)." (Diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa'i)

Imam Malik rahimahullah berkata:

بلغني أن رسول الله أري أعمار الناس قبله، أو ما شاء الله من ذلك، فكأنه تقاصر أعمار أمته ألا يبلغوا من العمل الذي بلغ غيرهم في طول العمر ، فأعطاه الله ليلة القدر خيراً من ألف شهر"                   

"Telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya (yang panjang), atau apa yang dikehendaki Allah dari hal itu. Maka seolah-olah beliau merasa umur umatnya terlalu pendek sehingga mereka tidak akan mampu mencapai amal yang telah dicapai oleh orang-orang selain mereka dengan umur yang panjang. Maka Allah memberikan beliau Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan."

Adapun mengenai amal ibadah pada malam Lailatul Qadar, diriwayatkan bahwa Nabi bersabda: 

من قام ليلية القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

"Siapa yang mendirikan malam Lailatul Qadar karena iman dan berharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Yang dimaksud dengan mendirikannya adalah menghidupkan malamnya dengan ibadah. Beliau juga memerintahkan Aisyah radhiyallahu 'anha untuk memanjatkan doa pada malam itu.

Sufyan Ats-Tsauri berkata: "Berdoa pada malam itu (Lailatul Qadar) lebih aku sukai daripada shalat." Maksud beliau adalah memperbanyak doa lebih utama daripada shalat yang tidak banyak doanya. Namun, jika seseorang membaca Al-Qur'an dan berdoa (di dalam shalat), maka itu sangat baik.

Kebiasaan Nabi ﷺ ialah beliau ﷺ bertahajud pada malam-malam Ramadhan dengan bacaan yang tartil. Tidaklah beliau ﷺ melewati ayat tentang rahmat melainkan beliau memohon rahmat, dan tidaklah melewati ayat tentang azab melainkan beliau ﷺ memohon perlindungan. Dengan demikian, beliau ﷺ menggabungkan antara shalat, membaca Al-Qur'an, doa, dan tafakur. Ini adalah amal yang paling utama dan sempurna pada malam sepuluh terakhir dan malam-malam lainnya.

Dirirwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Nabi ﷺ: "Bagaimana pendapatmu jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?" Beliau ﷺ bersabda: "Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي 

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Makna Al-Afwu (Maha Pengampun), Al-Afwu adalah salah satu nama Allah ﷻ, yang bermakna Dzat yang memaafkan keburukan hamba-hamba-Nya dan menghapus jejak-jejak dosa mereka. Allah ﷻ menyukai dan memaafkan hamba-Nya, dan Dia suka jika sesama hamba saling memaafkan. Jika mereka saling memaafkan, Allah ﷻ akan memperlakukan mereka dengan ampunan-Nya, karena ampunan-Nya lebih Dia cintai daripada hukuman-Nya. Nabi ﷺ sering berdoa:

اللّهُـمَّ إِنِّـي أَعـوذُ بِرِضـاكَ مِنْ سَخَطِـك، وَعَفْوِكَ مِنْ عُقوبَـتِك

"Aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan ampunan-Mu dari hukuman-Mu." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Mengapa Meminta Ampunan? Perintah untuk memohon ampunan pada Lailatul Qadar -setelah bersungguh-sungguh dalam beramal di sepuluh malam terakhir- adalah dikarenakan orang-orang yang arif (mengenal Allah ﷻ) tetap bersungguh-sungguh dalam beramal, namun mereka tidak melihat amal, keadaan, maupun ucapan mereka sebagai sesuatu yang sempurna. Maka mereka kembali memohon ampunan seperti layaknya orang berdosa yang penuh kekurangan.

Sebab-Sebab Ampunan di Bulan Ramadhan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau ﷺ bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه ، عن النبي قال : من صام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه ، ومن قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه. وعنه رضي الله عنه قال : قال : من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه.

"Siapa yang berpuasa bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." 
"Siapa yang mendirikan (menghidupkan) bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menunjukkan bahwa masing-masing dari ketiga sebab ini merupakan penghapus bagi dosa-dosa yang telah lalu. Ketiga sebab tersebut ialah amalan berikut:

1. Puasa siang Ramadhan.
2. Menghidupkan malam-malam Ramadan.
3. Menghidupkan Lailatul Qadar

Ibadah pada malam Lailatul Qadar saja sudah cukup untuk menghapuskan dosa bagi siapa pun yang mendirikannya, baik itu terjadi di awal sepuluh malam terakhir, di pertengahannya, maupun di akhirnya. Hal ini berlaku baik orang tersebut menyadari (merasakan) keberadaan malam itu atau tidak. Selain itu, penghapusan dosa tersebut tidak ditunda hingga berakhirnya bulan Ramadan (langsung dihapuskan saat itu juga).

Adapun berpuasa di bulan Ramadhan dan mendirikan shalat malam, maka pengampunan dosa melalui keduanya bergantung pada sempurnanya bulan tersebut, apabila bulan Ramadhan telah sempurna maka telah sempurna juga bagi seorang mukmin puasa Ramadhan dan sholat malamnya, kemudian ia akan memperoleh ampunan dari Allah apa yang telah dikerjakan dari berupa dosa dengan dua sebab, yaitu sempurnanya puasa Ramadhan dan shalat malam. 

Apabila orang yang berpuasa telah menyempurnakan puasanya dan shalat malamnya di bulan Ramadhan maka dia telah melaksanakan kewajiban amalannya, dan tidak ada yang tersisa dari haknya kecuali yaitu ampunan dari Allah. Dan, tatkala seseorang keluar menuju shalat Iedul Fitri, ia akan mendapatkan pahala, dan kembali ke rumah dalam keadaan telah mendapatkan pahala yang sempurna. Adapun orang yang belum menyempurnakan amalannya atau kurang didalam beramal maka ia akan memperoleh sesuai apa yang ia kerjakan pada bulan Ramadhan, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.

Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu berkata: “Shalat merupakan takaran, maka siapa yang menunaikan takarannya dengan sempurna, niscaya akan disempurnakan baginya pahala. Namun siapa yang curang dalam takarannya, kalian tentu telah mengetahui apa yang difirmankan Allah tentang orang-orang yang curang (Al-Muthaffifin). Maka puasa dan amalan lainnya pun mengikutinya, siapa yang melaksanakannya dengan sesempurna mungkin maka ia termasuk hamba Allah yg terpilih.Dan siapa saja yg melakukan kecurangan di dalamnya,maka celakalah bagi orang-orang yang melakukan kecurangan. Tidakklah malu, orang yang memuaskan takaran syahwatnya, namun ia berbuat curang dalam takaran puasa dan shalatnya?” (Az-Zuhd li Ibnil Mubarok)

Dahulu para Salafus Shalih rohimahumullah bersungguh-sungguh dalam menyempurnakan amalan amalan mereka, Kemudian setelah itu, mereka sangat mementingkan agar amal tersebut diterima dan merasa takut jika amal itu ditolak. Merekalah orang-orang yang digambarkan dalam firman Allah ﷻ: 

وَٱلَّذِینَ یُؤۡتُونَ مَاۤءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ أَنَّهُمۡ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ رَ ٰ⁠جِعُونَ

Dan mereka  memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka (QS. Al-Mu'minun: 60)

Diriwayatkan dalam kitab Al-Ikhlas wa An Niyyah li Ibni Abi Dunya dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

كونوا لقبول العمل أشد اهتماما منكم بالعمل ألم تسمعوا الله عز وجل يقول: {إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ}

"Hendaklah kalian lebih memperhatikan diterimanya amal daripada sekadar beramal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar Allah ﷻ berfirman: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Ma'idah: 27). 

Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri, beliau berkata: "Sesungguhnya Allah ﷻ menjadikan bulan Ramadhan sebagai medan perlombaan bagi makhluk-Nya. Mereka berlomba-lomba di dalamnya dengan ketaatan untuk meraih ridha-Nya. Maka terdapat suatu kaum yang melaju ke depan lalu mereka beruntung, namun ada pula kaum lainnya yang tertinggal lalu mereka merugi. Maka sungguh sangat mengherankan orang yang bermain-main dan tertawa terbahak-bahak pada hari di saat orang-orang yang berbuat baik meraih kemenangan, sedangkan orang-orang yang berbuat kebatilan menderita kerugian." (Lathoif Al-Ma'arif)

Dan diantara sebab-sebab lainnya diampuninya dosa pada bulan Ramadhan adalah:

1. Memberi makanan dan minuman untuk berbuka kepada orang yang berpuasa.
2. Meringankan beban para pekerja atau orang yang bekerja di bawah perintahnya.
3. Zikir dan istighfar.

Doa orang yang berpuasa dikabulkan selama ia berpuasa dan saat ia berbuka. Di antaranya juga adalah permohonan ampunan (istighfar) para malaikat untuk orang-orang yang berpuasa sampai mereka berbuka. Maka, ketika sebab-sebab pengampunan dosa begitu melimpah di bulan Ramadhan, orang yang tidak mendapatkan ampunan di dalamnya adalah orang yang benar-benar merugi dengan kerugian yang sangat besar. Maka, kapankah ampunan akan diberikan kepada orang yang tidak juga diampuni di bulan Ramadhan ini? Kapan lagi seseorang akan menjadi baik jika ia tidak juga menjadi baik di bulan Ramadhan? Kapan pula akan sembuh orang yang jiwanya terjangkit dua penyakit yaitu kebodohan dan kelalaian di Ramadhan ini? Setiap pohon yang tidak berbuah pada musim berbuah, maka ia pantas untuk ditebang lalu dijadikan kayu bakar. Siapa yang meremehkan (lalai) dalam menanam di masa menebar benih, maka ia tidak akan menuai apa pun di hari panen selain penyesalan dan kerugian.

Ramadhan Adalah Bulan Pembebasan dari Api Neraka

Pada bulan Ramadhan, dibebaskanlah dari api neraka yaitu mereka yang binasa karena dosa-dosa dan mereka yang terancam masuk neraka karena dosa-dosa besar yang mereka lakukan. Maka apabila tiba hari Iedul Fitri, Allah ﷻ akan membebaskan para pelaku dosa besar dari kalangan orang-orang yang berpuasa itu dari api neraka. Sehingga pada hari itu, para pendosa bergabung bersama orang-orang yang berbakti (al-abrar). Dikarenakan ampunan dan pembebasan dari api neraka masing-masing bergantung pada shiyam dan qiyamnya pada bulan Ramadhan , maka Allahﷻ memerintahkan untuk bertakbir dan bersyukur kepada-Nya saat puasa telah sempurna (selesai bulan Ramadhan). Allah ﷻ berfirman: 

وَلِتُكۡمِلُوا۟ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah: 185)

Maka bentuk syukur kepada Allah Dzat yang telah melimpahkan nikmat kepada hamba-hamba-Nya -dengan memberikan taufik untuk berpuasa, menolong mereka dalam menjalaninya, memberikan ampunan melalui puasa tersebut, dan membebaskan mereka dari api neraka-adalah dengan mengingat-Nya, mensyukuri-Nya, dan bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa.

Wahai orang yang telah dimerdekakan oleh Allah ﷻ dari api neraka ... Waspadalah! Jangan sampai kamu kembali menjadi budak dosa-dosa setelah kamu menjadi orang yang merdeka. Bukankah Rabbmu telah menjauhkanmu dari api neraka, namun mengapa kamu kembali mendekatinya?! Dia menyelamatkanmu dari api neraka, namun mengapa kamu menjatuhkan dirimu kembali ke dalamnya dan tidak mau menjauhinya?! Maka seharusnya bagi siapa pun yang mengharap pembebasan dari api neraka di bulan Ramadhan, hendaklah ia menempuh sebab-sebab memperoleh pembebasan tersebut. Dan sebab-sebab itu dimudahkan di bulan ini.

Dalam Shahih Ibnu Khuzaimah diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

فاستكثروا فيه من أربع خصال: خصلتين ترضون بهما ربكم، وخصلتين لا غناء بكم عنهما، أما الخصلتان اللتان ترضون بهما ربكم: فشهادة أن لا إله إلا الله وتستغفرونه، وأما اللتان لا غناء بكم عنهما: فتسألون الله الجنة وتعوذون به من النار

"Perbanyaklah melakukan empat perkara di bulan ini (Ramadhan): dua perkara yang dengannya kalian membuat Allah ﷻ ridha dan dua perkara yang kalian sangat membutuhkannya. Adapun dua perkara yang dengannya kalian membuat Allah ﷻ ridha ialah syahadat (persaksian) bahwa tidak ada Ilah selain Allah ﷻ dan istighfar (memohon ampunan). Sedangkan dua perkara yang kalian sangat membutuhkannya ialah kalian memohon surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari api neraka."

Keempat perkara yang disebutkan dalam hadis ini masing-masing merupakan sebab pembebasan dari api neraka dan pengampunan dosa.

Adapun syahadat kalimat Tauhid (Laa ilaha illallah), maka sesungguhnya ia menghancurkan dosa-dosa dan menghapusnya sebersih-bersihnya. Ia tidak menyisakan dosa sedikit pun, dan tidak ada amal yang dapat mendahului keutamaannya. Kalimat ini juga setara dengan memerdekakan budak yang mana perbuatan tersebut memperoleh pembebasan dari api neraka.

Adapun kalimat Istighfar, maka ia termasuk sebab pengampunan yang paling agung. Karena sesungguhnya istighfar adalah doa memohon ampunan, sedangkan doa orang yang berpuasa itu mustajab (dikabulkan), baik saat ia sedang berpuasa maupun ketika ia berbuka. Istighfar yang paling bermanfaat adalah istighfar yang disertai dengan taubat. Maka siapa yang beristighfar dengan lisannya namun hatinya masih terikat pada kemaksiatan, serta tekadnya masih bulat untuk kembali berbuat maksiat setelah bulan Ramadhan selesai, maka puasanya terancam ditolak dan ditutup pintu diterimanya amal.

Adapun memohon surga dan berlindung dari api neraka, maka itu termasuk doa yang paling penting. Nabi ﷺ bersabda:

حولَهما نُدَندِنُ

"Seputar dua hal (surga dan neraka) kita senantiasa berdoa." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Selamat Tinggal Ramadhan

Wahai hamba-hamba Allah ﷻ, sesungguhnya bulan Ramadhan segera pergi, dan tidaklah tersisa darinya kecuali sedikit saja. Maka siapa di antara kalian yang telah berbuat baik di dalamnya, hendaknya ia menyempurnakannya. Dan siapa yang telah lalai (kurang maksimal), maka tutuplah dengan kebaikan, karena sesungguhnya amal itu dinilai dari penutupnya. Maka nikmatilah sisa malam-malam yang sedikit dan hari-hari yang tersisa ini. Titipkanlah pada bulan ini amal shaleh yang kelak akan menjadi saksi bagi kalian di hadapan Allah ﷻ, Dzat Yang Maha Mengetahui. Dan lepaskanlah kepergiannya dengan ucapan salam serta penghormatan yang paling suci.

Wahai bulan Ramadhan, perlahanlah ... air mata hamba Allah kini mengalir deras. Hati mereka retak karena pedihnya perpisahan dengan bulan yang mulia ini. Semoga momen perpisahan ini dapat memadamkan api kerinduan yang membakar. Semoga waktu-waktu taubat dan berhenti dari dosa ini dapat menutup kembali segala yang terkoyak dari puasa kita. Semoga mereka yang tertinggal dari rombongan orang-orang yang diterima amalnya, dapat menyusul. Semoga dosa-dosa kita diampuni. Semoga mereka yang terancam masuk neraka dibebaskan. Semoga dengan rahmat Allah ﷻ, ahli maksiat diberi taufiq untuk meninggalkan maksiatnya,

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Sumber tulisan dari buletin berbahasa Arab العشر الأواخر من رمضان dengan beberapa penyesuaian yang diterjemahkan oleh Tim Imam Ahmad: Daffa Syafiq Al-Ullaya, Razka Athari Setiawan, dan Kalfani Abdel Raheem (para santri Ma'had Tahfizh Al-Yusro yang tergabung dalam keanggotaan BPIP) dibawah bimbingan kepala BPIP, Al-Ustadz Anfal Yalda -Hafizhahullah-.
Penulis: Bidang Penelitian Ilmiah dan Perpustakaan (BPIP)

Nabi ﷺ Bersabda : "Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya". [HR. Muslim: 1893]

klik tombol di bawah untuk bagikan informasi ini,
‎جزاكم الله خيرا

kembali Khutbah Fiqih prestasi Kegiatan Santri Kerjasama Aqidah Materi Kuttab Karya Tulis BPIP