Logo WhatsApp Ma'had Al Yusro Logo Instagram Ma'had Al Yusro Logo YouTube Ma'had Al Yusro Logo Facebook Ma'had Al Yusro
Temukan Informasi Yang Anda Cari

Tauhid Gaya Hidup

kembali Khutbah Fiqih prestasi Kegiatan Santri Kerjasama Aqidah Materi Kuttab Hadits
Tauhid Gaya Hidup
Description of Tauhid Gaya Hidup
151 Views
2026-01-20 10:50:09


 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
 الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Pertemuan yang ke-17 Ruang Belajar Tauhid Gaya Hidup adalah tentang “Tathayyur”, yaitu merasa sial dengan sesuatu.

At-Tathayyur adalah merasa akan mengalami nasib sial karena melihat atau mendengar kejadian tertentu, seperti melihat tabrakan, orang yang berkelahi, atau yang semisalnya kemudian hal tersebut menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya, seperti bepergian, berdagang dan lain-lain. At-Tathayyur termasuk syirik kecil apabila perasaan tersebut diikuti.

Rasūlullāh ﷺ bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang ath-thiyarah menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya maka dia telah berbuat syirik.”
(HR. Ahmad dan dishahīhkan oleh Syaikh Al-Albānī raḥimahullāh)

Perasaan ini sebenarnya tidak akan mempengaruhi takdir, sebagaimana hal ini dinafikan dan diingkari oleh Rasūlullāh ﷺ. Beliau bersabda:

وَلاَ الطِّيَارَة

“Dan tidak ada thiyārah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, thiyārah ini adalah hanya sebuah perasaan saja yang tidak akan berpengaruh terhadap takdir Allāh ﷻ. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh mengikuti was-was syaithān ini dan hendaknya dia memiliki keyakinan yang kuat bahwa semua yang terjadi di permukaan bumi, berupa kebaikan dan keburukan adalah dengan takdir Allāh ﷻ semata. Seorang Mukmin hendaknya yakin bahwa tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allāh ﷻ, dan tidak ada yang melindungi dari keburukan kecuali Allāh ﷻ. Hanya bertawakkal kepada Allāh ﷻ semata dan berbaik sangka hanya kepada Allāh ﷻ.

Apabila datang perasaan was-was tersebut maka hendaknya segera dihilangkan dengan tawakkal kepada Allāh ﷻ dan tetap melaksanakan hajatnya. Apa yang terjadi setelah itu adalah takdir Allāh ﷻ semata.

Adapun at-tafā’ul, yaitu berbaik sangka kepada Allāh ﷻ karena melihat atau mendengar sesuatu, diperbolehkan dalam agama kita. Dahulu Nabi ﷺ sering bertafā’ul, seperti ketika terjadi Perjanjian Hudaibiyah. Utusan Quraisy saat itu bernama Suhail, yang merupakan bentuk tashghir (pengecilan) dari kata “sahl,” yang artinya “mudah”. Maka Beliau ﷺ pun berbaik sangka kepada Allāh ﷻ bahwa perjanjian ini akan membawa kemudahan dan kebaikan bagi umat Islam. Maka benarlah persangkaan Beliau ﷺ, karena setelah perjanjian tersebut, Allāh ﷻ membuka pintu-pintu kemudahan bagi umat Islam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada pertemuan kali ini semoga menjadi ilmu yang bermanfaat

Refrensi :

•    HSI Abdullah Roy

•    Ilmiyah.com

Penulis: Elan susanto

Nabi ﷺ Bersabda : "Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya". [HR. Muslim: 1893]

klik tombol di bawah untuk bagikan informasi ini,
‎جزاكم الله خيرا

kembali Khutbah Fiqih prestasi Kegiatan Santri Kerjasama Aqidah Materi Kuttab Hadits